Budaya Jawa memang tidak pernah kehabisan ragam. Ia terus berbicara dan merespons kondisi sosial menggunakan caranya yang unik dan menarik. Uniknya, dalam ritual tertentu ia dipadukan dengan unsur agama. Menariknya, ia mampu hidup dalam jangka waktu relatif lama. Sialnya, akulturasi unik ini terkadang malah disalah tafsirkan oleh kelompok tertentu. Celakanya, terkadang kecelakaan tafsir itu datang dari doktrin agama yang konservatif dan militan.
Jujur saya merasa senang menemukan tradisi lokal di tanah rantau ini. Warga Pajangan Bantul menyebutnya Rodat. Satu kesenian tari kelompok yang dilakukan dengan iringan syair pujian kepada Rasulullah saw. Syair ini diilhami dari tarikh kerasulan. Maka sangat wajar bila tradisi ini dilakukan ketika perayaan Maulid Nabi.
Saya pertama kali mengenal tradisi Rodat ketika mengikuti perayaan Maulid Nabi di Masjid Al Mutathohirin Pajangan. Awalnya sedikit bingung, karena saya kira jamaah akan melangsungkan hadrah Ishari yang biasa ekses di Jawa Timur. Namun di luar dugaan, jamaah laki-laki justru berjejer dan saling berhadapan dengan memegang kipas di tangan kanan masing-masing. Baju putih dan songkok hitam ikut menjadi pilihan outfit.
Terbang dan jedor mulai dipukul, para tetua adat juga tampak memimpin membaca syair manakib kerasulan itu. Dalam irama tertentu pemain tari kipas mulai menunjukkan aksinya dengan naik turun dan sesekali meliuk sambil memainkan kipas. Irama syair lantunan tetua adat pun tampak berbeda dengan lahjah syair arab pada umumnya. Saya tidak menemukan lagu bayati, sika, maupun jiharkah dalam lantunannya. Tidak pula bahr thawil, rajaz, maupun kamil seperti bait nadzam.
Saya memahami bahasa dan arti syair yang dilantunkan. Jelas berbahasa arab dan mudah untuk dipahami. Namun tragisnya harus saya katakan, saya tidak kenal syair dan irama itu. Sederhana pemahaman saya, syair itu diiramakan menggunakan langgam Jawa. Walaupun begitu, langgamnya tentu berbeda irama dengan tembung macapat maupun pucung.
Warga lokal bercerita kepada saya bahwa tradisi ini diyakini ada dan ekses sejak pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bawono 1 di Ngayogyakarta. Rodat pada awalnya adalah pertunjukan untuk menyindir kependudukan Belanda pada saat itu. Sindiran itu terkait dengan kepercayaan penjajah Belanda yang berkeyakinan Protestan. Tentu keyakinan ini berbeda dengan keyakinan masyarakat lokal Yogyakarta yang memeluk agama Islam. Menjadi wajar bila tradisi ini dinamakan Rodat. Masyarakat meyakini bahwa Ro berarti weruh dan Dat berarti syahadat, maka Rodat secara tekstual adalah weruh ing syahadat (kenal dengan kalimat syahadat).
Dalam perjalanannya tradisi Rodat tetap lestari dan berjalan. Namun dalam seiring perjalanan waktu ia bertransformasi sebagai upaya manifestasi dan filosofis. Ia berubah menjadi ajang pertunjukan yang tetap mempertahankan nilai agama namun tetap sarat akan filosofis terhadap tarikh kerasulan. Maka masyarakat Bantul dan Yogyakarta pada umumnya masih sering menjumpainya dalam ritual tertentu misalnya maulid nabi maupun perayaan aqiqah. Lagi-lagi kesenian dan budaya dapat berakulturasi dengan nilai agama. Bukan malah justru berselingkuh dengan dogmanya.