Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Catatan Romli Muktamar NU 35: NUnut Ngaji Kiai

Muchamad Rudi C

Saya tidak sedang membincangkan siapa yang menang. Muktamar justru membawa saya pada banyak hal lain: ilmu pengetahuan, turots, AI, sebaran informasi, big data, hingga kajian hukum sejak zaman Nabi Adam dan Siti Hawa. Menarik.

Baru kali ini saya benar-benar melihat bagaimana NU begitu kuat menarik perhatian dalam peta sosial dan politik Indonesia. Mengikuti Muktamar menjadi salah satu jalan untuk melihat potensi dan tantangan itu. Walaupun, dari informasi dan dinamika yang saya ikuti, beberapa hari sebelum pengambilan keputusan, arah mengenai siapa yang akan menjadi pemenang tampaknya sudah mulai terbaca. Maka tulisan ini tidak lagi membahas tentang itu, tetapi sisi lain yang saya dapat renungkan dalam Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, kemarin.

Saya mengira hanya akan ada beberapa rapat pleno dengan beberapa peserta dari perwakilan pengurus Kabupaten atau Wilayah masing-masing. Ternyata tidak. Banyak orang dengan beragam motivasi berbondong-bondong dari berbagai daerah, dari Sabang sampai Merauke untuk menuju kota punjer pendiri jam’iyah NU tersebut. 

Saya pun masih penasaran, sejak kapan Muktamar NU menjadi seramai itu? Ramai dalam perihal menyedot perhatian masyarakat, bukan dengan agenda organisasinya. Seperti adanya panggung hiburan, stan-stan bazar, penjualan pernak-pernik ala muktamar, dan tentunya agenda ziarah ke maqbarah pendiri KH Wahab Hasbullah menambah kemeriahan suasana.

Akan tetapi dari semua itu, terbesit dalam pikiran saya, apa motivasi terbesar saya mengikuti agenda tersebut? Lebih tepatnya, bukan sekadar Muktamar, tetapi lebih pada bagaimana menjadi seorang Nahdliyin. 

Bisa dikatakan saya lahir dari keluarga NU kultural. Bapak pernah menjadi seorang penabuh “terbang” dalam Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI), kelompok kesenian bernuansa ke NU-an. Bapak telah melalang buana dalam berbagai event ISHARI semasa mudanya. Bahkan sampai sekarang seni hadrah dan diba’ tersebut masih aktif di desa, dan bapak menjadi salah satu pemrakarsanya. 

Dari sisi ibu, Almarhumah ibu saya sangat aktif setiap hari Jumat memakai batik hijau ala muslimat untuk berangkat pengajian di Mushola terdekat. Kenangan itu terngiang kembali ketika sebelum saya berangkat ke lokasi Muktamar kemarin. Sekiranya setelah selesai sholat jum’at, terdengar sayup-sayup toa mushola dengan suara ibu-ibu Muslimat tengah memulai acara pengajiannya. Memang masih khas dan masih sama dengan beberapa tahun lalu. 

Artinya NU memang masih melekat di setiap simpul akar rumput masyarakat desa dari dulu hingga sekarang. Benar jika dulu saya mengenal NU bukan sebagai organisasi, melainkan kegiatan-kegiatan keagamaan saja. Dari pengalaman itu, saya kemudian memahami mengapa ada orang yang ketika ditanya, “Agama sampean apa?” menjawab, “Agama saya NU.” Bukan berarti NU dipahami sebagai agama, melainkan begitu dekatnya identitas kultural NU dengan praktik keberislaman seseorang. Berislam, bagi sebagian masyarakat, sekaligus berarti menjalankan tradisi keislaman yang mereka kenal melalui NU. 

Memang sebelumnya saya tidak tahu-menahu bahwa NU juga sebagai organisasi. Bahkan sebelumnya singkatan-singkatan tingkatan organisasi kepengurusan saja saya tidak hafal. PR, MWC, PAC, PC, PW, saya tidak memahami tingkatannya. Mungkin yang saya ketahui hanya dengan nama pengurus NU pusat yang selalu tampil pada agenda sidang isbat penentuan bulan syawal. 

Barulah ketika salah satu guru saya mengajak untuk mengikuti kegiatan penelitian tentang ke-NU-an. Saya langsung dihadapkan dengan salah satu lembaga NU di tingkat wilayah. Saya masih asing dengan nama tersebut. Bahkan tidak ada bayangan bahwa NU punya lembaga tersebut. Yakni Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTNNU). Lembaga yang bergerak dalam bidang penulisan dan publikasi. 

Ternyata pertemuan itulah membuat saya mencari pengetahuan bahwa masih banyak sekali kelompok yang dinaungi oleh pengurus NU. Tidak seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Dari sana saya mulai mengenal NU bukan hanya sebagai kegiatan agama Islam berbasis kultural. Tetapi sebagai kesatuan tubuh organisasi besar di Indonesia. Saya mulai mengenal NU bukan hanya melalui tradisi keagamaan yang hidup di desa, tetapi juga sebagai organisasi dengan struktur, lembaga, dan jaringan yang begitu luas.

Dari sana pula saya terbesit sebuah keresahan batin. Semenjak tidak lagi bermukim di pondok dan berkuliah dalam naungan perguruan tinggi Islam, bagaimana saya tetap menjaga keislaman dan keimanan? Minimal, tetap menjalankan tradisi sholawat, tahlil, yasin, ziarah, dawuh Ulama’ yang sudah lama menjadi satu nilai dalam diri. 

Maka solusi yang saya tawarkan pada diri sendiri yakni dengan mengikuti organisasi Nahdlatul Ulama’. Dengan dalih harapan tetap menjaga nilai kultural yang ada. Dekat dengan Kiai, bisa mengaji, mendengarkan dawuh-dawuh menyejukan hati, bahkan diakui sebagai santri. Jika diakui sebagai santri, akan mudah ketika nanti ditanya malaikat, “Apa saja yang kamu lakukan di dunia dulu?”  saya bisa menjawab, “kegiatan di dunia saya dulu: nyantri dengan Kiai NU saya kat. Jadi tolong tanya kegiatan saya kepada beliau saja”. Artinya masih ada harapan selamat dengan syafaat para Kiai, Ulama’ dan tentunya diakui sebagai umat Kanjeng Nabi. Tentu saja, ini hanya gurauan dalam batin. Tetapi dibalik itu ada harapan sederhana: semoga kedekatan dengan kiai, ulama, dan tradisi keislaman menjadi jalan untuk tetap berada dalam keberkahan dan syafaat orang-orang saleh. 

Sederhana saja sebenarnya motivasi saya. Akan tetapi, semoga tidak tergoyahkan oleh praktik serta wacana politik yang terjadi. Pada intinya semua sama. Ingin tetap menjadi jamaah dan jam’iyah. Menjaga budaya keislaman yang sudah melekat di akar masyarakat. Adapun dengan masuk mengurusi NU secara organisasi itu juga sangat penting sebagai cara untuk tetap merawat jamaah dan jam’iyah. 

Pada akhirnya, saya datang ke Muktamar bukan semata-mata untuk melihat siapa yang menang. Saya datang dengan kegelisahan yang lebih sederhana: bagaimana tetap menjadi bagian dari jamaah dan jam’iyah NU, bagaimana tetap menjaga tradisi yang sejak kecil melekat dalam diri, dan bagaimana tetap bisa belajar kepada kiai. Mungkin karena itu saya menyebutnya bukan sekadar mengikuti Muktamar. Saya sedang nunut ngaji kepada para kiai.

Muchamad Rudi C
Ditulis oleh

Muchamad Rudi C

Islamic digital activist. Mugi Barokah Manfaat

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer