“NU Saklawase PBNU Sakcukupe,” guyonan ini mulai menyebar viral di media sosial pasca perhelatan Muktamar NU ke 35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang. Kata-kata Gus Nadhif ini keluar dengan nada humoris sebagai respons gojlokan Gus Baha’ kepadanya di kegiatan Haul Pesantren Maslakul Huda Kajen. Spontan guyonan khas kaum sarungan itu menghasilkan gelak tawa hadirin hingga viral di berbagai media sosial.
Gus Baha’ dalam beberapa konten yang beredar menyampaikan argumentasi bahwa untuk mencintai Mbah Hasyim Asy’ari, Rais Akbar sekaligus Muassis Jamiyyah Nahdlatil Ulama’ tidak harus dengan menjadi Pengurus NU. Karena pernyataan ini diucapkan pasca ketegangan perhelatan Muktamar, sontak penggunaan komunikasi model cocoklogi ini Kembali naik daun di media sosial.
Saya tidak hendak menjustifikasi bahwa gojlokan itu pantas atau tidak. Bukan juga untuk melihat konteks etnografi visual secara mendalam mengapa gojlokan itu muncul. Coretan ini murni lahir dari embrio subyektifitas saya yang beberapa pekan lalu sempat mengikuti kegiatan Muktamar sebagai rombongan liar. Sekali lagi, pengalaman dan pengamatan yang berubah menjadi kritik dalam tulisan ini tidak bersifat obyektif, maka sangat pantas untuk dikritik dan direspons.
Sebagai santri yang lahir dan tumbuh besar di lingkungan pesantren berafiliasi NU, doktirn kesakralan ilmu dan ketokohan Kyai menjadi makanan sehari-hari. Sejak kecil saya sudah mengetahui nama-nama kitab dasar misalnya Sulam Sufinah dan Sulam Taufiq. Sudah pula mengetahui nama Ulama kondang seperti Gus Mus, Gus Dur, Mbah Hasyim, dan lainnya. Tentu secara langsung saya tidak pernah bertemu apa lagi bersinggungan. Namun lewat ngaji kuping dan cerita yang sering saya dapatkan kala bapak berceramah, secara bertahap membentuk tatanan stuktur doktrin ke-NU-an dalam otak kecil saya.
Dengan bekal sefakir ini saya mengklaim diri sebagai Santri NU. Celakanya, secara stuktur saya tidak pernah masuk dalam jajaran kepengurusan. Lembaga maupun Lajnah asuhannya, IPNU maupun PMII-nya. Kondisi ini diperparah karena secara langsung saya terdistraksi lingkungan. Bapak menjabat sebagai Ketua Tanfidhiyah di Ranting 3 periode, anaknya sibuk mengkritik tokoh NU. Berbekal seporsi kekalahan ini dengan percaya diri saya tetap menahbiskan diri sebagai Santri NU. Saya merasa menjadi keluarga NU. Karenanya saya bebas berekspresi dan berwacana layaknya anak kecil. Saya berhak merajuk, memberikan komentar, dan sesekali marah dengan Kyai dan ulama sepuh itu, pikir saya.
Sebagai Romli yang tidak memiliki hak suara dalam pemilihan Muktamar, agenda saya sebenarnya hanya dua, beli kitab dan menjadi panitia pada kegiatan Seminar Nasional NU Map. Agenda kedua ini adalah kolaborasi kegiatan yang diinisiasi PC Lakpesdam Tulungagung dengan dihadiri Prof Turhan, Ketua PW Lakpesdam Jawa Timur dan Prof. Lilik dari PB Lakpesdam NU. Terlepas dari itu, saya hanya penikmat dan pengamat yang sesekali berdiskusi dengan para dosen dan Kyai baik di lokasi Muktamar maupun posko.
Hasil cocoklogi saya, berdasar pada amatan sederhana setidaknya terdapat tiga alasan mengapa gojlokal “NU Saklawase PBNU sakcukupe” itu lahir. Pertama, gojlokan ini keluar dari barisan sakit hati yang kemungkinan besar tidak suka dengan hasil Muktamar. Muktamar NU sudah selesai namun pembahasan, diskusi, dan sesekali demonstrasi masih sering dijumpai. Gojlokan ini lahir sebagai ekpresi yang secara interpretitif dapat kita lihat sebagai bentuk kekecewaan atau ketidaksepakatan hasil Muktamar. Bukan secara menyeluruh seperti hasil Bahtsul Masail dan sidang komisi lainnya, namun tentang siapa yang terpilih dan bertanggung jawab menjadi nahkoda besar ormas ini kedepannya.
Kedua, trend kubu dalam suksesi Muktamar. Ketua Umum PBNU dan Rais A’am terpilih, KH. Abdul Hakim Mahfudz dan KH. Miftakhul Akhyar dalam beberapa klausal sering diidentikkan sebagai tokoh yang memiliki kedekatan dengan Pemerintah. Kedekatan ini seolah berpotensi menjadikan NU terkooptasi bila keduanya menjadi duet pasangan yang akan memimpin NU selama lima tahun kedepan. Kondisi ini diperparah karena beberapa media tersohor sempat mendiskusikannya dalam forum podcast maupun dialog interaktif, Bocor Alus misalnya, lucunya jadi kenyataan. Keduanya dinilai sebagai tokoh yang akan berdiri di bawah bayang-bayang dan patronasi Prabowo Subianto sebagai Presiden RI. Artinya program, kebijakan, dan rencana strategis kedepannya akan sangat identik dengan manifestasi Istana. Tren ini menjadikan beberapa tokoh terlihat kurang begitu mantap dengan keduanya. Celakanya, dua tokoh ini berhasil memenagkan suksesi.
Ketiga, kemusykilan mekanisme pemilihan. Saya ingat, Putin, Presiden Rusia pernah mengucap “kemenangan demokrasi itu bukan berada pada seberapa kuat calonnya namun tergantung pada penyandang legalitas mekanismenya.” Ucapan ini mungkin menjadi mukadimah, pembanding, atau justru pelabelan pada perang suksesi. Kemusykilan di Muktamar sudah terlihat sejak Muktamar secara resmi dibuka. Muncul desas-desus karantina Sukolilo yang dilakukan oleh oknum kepada Ketua PCNU dan PWNU pemilik hak suara. Fakta ini dinilai tidak logis dan politis. Agendanya jelas untuk meraup suara dan memenangkan salah satu calon.
Naasnya kondisi ini berlanjut di lokasi Muktamar. Ahwa dipilih dengan model voting, setiap pemilik suara menyantumkan nama-nama yang diusulkan menjadi Ahwa. Maka muncullah Ahwa sebagaimana yang sudah tersebar di berbagai media sosial. Beberapa ahwa sudah disetting, begitulah pikir kaum sarungan di bawah. Pikiran dan pembicaraan ini muncul di akar rumput, di mana hasilnya dinilai terlalu janggal karena justru beberapa nama kyai yang masuk Ahwa bukan Kyai sepuh yang selama ini mejadi Bashirah Nadzrah Bathiniah NU. Nama seperti KH. Ma’ruf Amin dan KH. Musthofa Bisri, dua Rais A’am sebelum KH. Miftakhul Akhyar justru tidak masuk dalam keanggotaan. Jelas ini sudah diatur, saya juga berpikir demikian.
Lalu bagaimana yang terjadi ? bagaimana mekanisme pemilihan Rais A’am dan Ketua Umum dalam siding tertetup itu ? apa pertimbangannya ? semua jawaban itu masih kabur. Tapi siapa yang terpilih dan kepada siapa NU selama 5 tahun kedepan agaknya sudah dapat terbaca sejak awal. Saya sebagai santri yang masih luput dengan ilmu dan amal hanya berdoa semoga kekhawatiran Kyai sepuh berhasil gagal. Setidaknya tiga fakta ini menjadi alasan mengapa gojlokan ini lahir. Sekali lagi, tulisan ini subyektif, jangan ragu-ragu untuk mengktritik dan mencolek saya. Bukan untuk menaikkan pamor seperti calon Ketua Umum PBNU dan Rais Aam, hanya sebagai respons positif bagi kaum penikmat literasi saja. Wallahu a’lam.