Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Belajar kepada Al-Bukhari, Meneliti Hadis di Tegalsari

Ahmad Misbakhul Amin
· Diperbarui 13 July 2026

Tradisi safar menjadi budaya tersendiri bagi para perawi hadis. Alkisah Al Bukhari juga demikian, sebagai anak kelahiran Bukhara, kini masuk daerah Uzbekistan, ia melakukan safar ilmiah kepada banyak ulama di daerah Timur Tengah misalnya kepada Ahmad ibn Hanbal di Baghdad, Irak dan Yahya ib Yahya Al Naisaburi di Naisabur, Iran. Secara geografis kedua wilayah ini sangat jauh, ditambah keterbatasan transportasi di masa itu, namun Al Bukhari tetap menjalan misi safarnya untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman kepada muhadis abad itu. lelakon demikian juga sering dilakukan oleh Al Syafi’i dan gurunya, Malik ibn Anas.

Sebagai mahasiswa ilmu hadis pengagum Al Bukhari karena karya besarnya, Sahih Al Bukhari, perjalanan ilmiah juga sering saya lakukan. Bedanya, Al Bukhari melakukan perjalanan untuk mencari guru dan meriwayatkan hadis darinya. Ia menghafal dan meriwayatkan lalu mencatatnya hingga menghasilkan naskah kitab  induk monumental. Sedangkan yang saya lakukan kini justru melacak hadis-hadis yang hidup dan diresepsi masyarakat secara lokal dan independen. Dalam dikursus akademik hadis, kajian saya ini dikenal dengan istilah riset living hadis. Sebuah penelitian untuk mengungkap fakta bagaimana masyarakat muslim menerima, meresepsi, merespons, dan memanfaatkan hadis lewat tradisi dan ritual tertentu.

Perjalanan kami lakukan pada Sabtu, (04/07/26) dari Tulungagung ke Ponorogo. Saya mendapati informasi bahwa di daerah Tegalsari, tepatnya di Kompleks Masjid dan Makam Kiai Ageng Muhammad Besari Tegalsari, ada satu tradisi lokal, kini dikenal dengan istilah likuran. Tradisi ini merupakan ritual keagamaan yang dilakukan muslim lokal Tegalsari sebagai bentuk harapan memperoleh Lailatul Qadar di malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadan. Saya belum melihat dan mengikuti ritual ini secara langsung, namun berdasarkan penjelasan beberapa warga dan tokoh, arah pembicaraan menuju pada satu dimensi yakni living hadis atau hadis yang hidup.

Pagi itu bersama Pak A’am, dosen yang sudah saya anggap menjadi orang tua dan pimpinan saya, serta kedua rekan, kami berangkat ke titik lokasi. Perjalanan atau lelaku safar ini mempertemukan kami dengan juru kunci makam, Pak Tomo namanya.  Lama kami berbicara dan berdiskusi dengannya tentang bagaimana dan apa sebenarnya tradisi likuran itu. Sesekali perdebatan muncul menghasilkan dialektika epik dan menarik. Namun, sebagai seorang peneliti, saya tetap memosisikan diri sebagai pemerhati yang haus informasi dan memverifikasi informasi guna mendapatkan data lapangan. Saya tidak banyak membantah tapi tetap selektif dan obyektif.

Pak Tomo menyampaikan bahwa tradisi likuran ini sudah lama dilakukan, bahkan sejak kecil ia ingat betul bagaimana orang tuanya ikut menyiapkan peralatan masjid. Tradisi ini menurutnya adalah tradisi turun temurun sejak zaman Mbah Muhammad Besari dan dilanjutkan oleh Mbah Hasan Besari hingga sekarang. Dalam ritual tersebut setidaknya jemaah melaksanakan tujuh salat dan salah satu di antaranya adalah salat Li talabi lailatil qadar. Ketujuh salat ini kemudian disempurnakan dengan zikir khusus khas Tegalsari.

Penulis jujur belum mengetahui bagaimana literatur berbicara tentang salat ini. Setelah melihat beberapa kitab fikih, penulis juga belum menemukan jawabannya. Ada dua kemungkinan, kemungkinan penulis kurang membaca kitab Mutawalat sehingga tidak menemukan keterangannya atau kemungkinan kedua memang tidak ada anjuran khusus yang secara spesifik memerintahkan melaksanakan salat ini. Di sisi lain penulis mengetahui memang banyak riwayat hadis berbicara masalah Lailatil Qadar, termasuk ibadah dan anjurannya. Namun, yang ada di tegalsari ini bila dilihat lebih dalam memiliki artikulasi dan esensi berbeda. Kata kuncinya tergantung pada bagaimana masyarakat meresepsi dan mengimplementasikan hadis ini dengan cara berbeda. Dalam istilah Saifuddin Zuhri Qudsy dan Ahmad Rafiq, fenomena ini dikenal dengan istilah living the hadith.

Informasi demi informasi saya catat dan rekam. Banyak hal saya dapatkan dari penuturan Pak Tomo. Namun demikian tentu wawancara untuk menghasilkan diseminasi riset tidak cukup sekali, butuh tempaan dialektika dan lumbung sumber data untuk membangun konstruksi riset ideal. Pagi itu kita berbicara banyak hal dan mendalam walaupun hanya satu jam. Kegiatan serupa akan kami lakukan kembali di bulan Agustus kepada narasumber berbeda, tentunya dengan pembahasan dan guyonan yang berbeda.

 

 

Ahmad Misbakhul Amin
Ditulis oleh

Ahmad Misbakhul Amin

Founder Komunitas El Himmah (Pengkaji Al Quran, Hadis, Turats, dan Wacana Keislaman yang kini menempuh S2 di Islamic Studies Interdisciplinary Konsentrasi Hermenutika Al Qur'an dan Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer