Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Meluber, Jamaah JASNU Padati Malam Shalawat

Hari Prasetia

Jombang—Seribuan jamaah menghadiri kegiatan Jam’iyah Shalawat Nahdlatul Ulama (JASNU). Mereka memadati halaman Masjid Ar-Rahman Desa Balongbesuk Kecamatan Diwek, Sabtu (24/1) malam.

Sebagian besar jamaah bahkan meluber di jalanan desa sekitar masjid. Mereka berasal dari pengurus ranting NU, lembaga, badan otonom (banom) dan masyarakat setempat.

Tampak hadir sebagai tamu undangan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Diwek, KH Hamdi Sholeh. Termasuk Katib Syuriah MWCNU Gus Muhammad Sobby.

Kepala Desa Balongbesuk, Mochammad Syaifur, merasa bangga wilayahnya dijadikan lokasi malam shalawat oleh JASNU. “Ini yang kedua kalinya, tapi masyarakat Desa Balongbesuk tetap antusias menyambut jamaah JASNU,” ujarnya.

Persiapan panitia, lanjutnya, sudah dilakukan jauh hari. “Bahkan anggota Fatayat dan Muslimat NU sudah latihan dua bulan lalu untuk tim paduan suara,” imbuhnya.

Ketua MWCNU Diwek, KH Hamdi Sholeh, mengapresiasi kekompakan panitia dan jamaah. Ia menyadari bahwa kegiatan besar seperti ini tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

“Semoga dengan perantara acara ini, semua rezeki dibuka oleh Allah,” harapnya mendoakan para donatur dan jamaah yang hadir.

Kiai Hamdi juga menekankan pentingnya kebersamaan tanpa memandang status sosial dalam majelis tersebut. “Kalau sudah kumpul seperti ini, semua sama,” tambahnya.

Acara inti diisi dengan mauidhoh hasanah oleh Gus Ahmad Muzaki, M.Pd.I. Dalam ceramahnya, ia mengupas makna bulan Sya’ban atau yang dalam tradisi masyarakat Jawa sering disebut bulan Ruwah.

“Ruwah artine ngruwat arwah. Kirim dungo kanggo sing sampun sedo,” terangnya.

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Gus Muzaki mengingatkan jamaah untuk saling memaafkan, utamanya kepada orang tua dan saudara. Ia menyayangkan fenomena hubungan kekerabatan yang mulai renggang.

“Zaman sekarang banyak yang tidak kenal dengan paman, bibi, bahkan kakaknya,” tegasnya.

Karena itu, ia mengimbau jamaah untuk menyambung kembali silaturahmi. Saudara atau kerabat yang selama ini tidak pernah saling kontak, agar segera dihubungi kembali.

Selain hubungan sesama manusia, ia juga mengajak jamaah untuk membenahi kualitas ibadah sebelum memasuki bulan puasa.
“Shalat lima waktu itu wajib. Kalau tidak bisa berdiri, ya duduk. Kalau tidak bisa duduk, ya berbaring,” pungkasnya.

Kontributor: Hari Prasetia, pengurus LTN MWCNU Diwek

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer