Suluk.id – Tepat enam belas tahun yang lalu, saya dan seorang teman sekamar kos, Ahmad David, memiliki pengalaman yang sampai hari ini masih saya ingat dengan jelas. Pengalaman itu terjadi pada 31 Maret 2010, di Gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Waktu itu kami masih mahasiswa. Saya kuliah di Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, sementara David mengambil Perbandingan Agama. Kami sama-sama mahasiswa di UIN—yang sering kami sebut secara bercanda sebagai “UIN Sukijo”.
Suatu hari, sebuah pamflet beredar di sekitar kampus. Isinya cukup mengejutkan: akan ada seminar internasional yang menghadirkan Imam Besar Iran, Ayatollah Khomeini, sebagai narasumber utama. Namun ada satu masalah besar bagi kami: HTM seminar itu Rp250.000.
Bagi mahasiswa kos seperti kami saat itu, jumlah tersebut bukan angka kecil. Saya dan David hanya saling memandang. Kami sama-sama ingin datang, tetapi sama-sama tahu bahwa kami tidak punya uang.
Malam itu di kamar kos, kami berdiskusi cukup lama. Bukan diskusi akademik seperti di kelas, tetapi diskusi khas mahasiswa yang sedang mencari cara menembus acara berbayar tanpa tiket.
Akhirnya kami menemukan “strategi”. Kami memutuskan datang pagi sekali, bahkan sebelum panitia siap sepenuhnya. Pukul 06.00 pagi, kami sudah sampai di gedung UIN Sunan Kalijaga. Saat itu ruangan masih sepi. Panitia belum ramai, peserta juga belum berdatangan.
Kami langsung masuk saja. Di dalam gedung, kami duduk santai di pojok ruangan. Tidak ada yang bertanya apa-apa. Kami hanya berpura-pura seperti peserta yang datang terlalu pagi.
Acara sebenarnya baru dimulai pukul 10.00 WIB, jadi kami menunggu cukup lama. Pelan-pelan panitia mulai berdatangan. Peserta juga mulai memenuhi ruangan. Saya masih ingat, banyak sekali mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta yang hadir, terutama mahasiswa pascasarjana UGM.
Seminar itu diselenggarakan oleh Mulasadra Press, sebuah penerbit yang didirikan oleh alumni universitas di Iran yang pernah tinggal di sana sekitar sepuluh tahun. Pada masa itu, hubungan akademik antara Indonesia dan Iran cukup intens. Bahkan di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga ada buku-buku berbahasa Persia dan literatur tentang Iran.
Tidak lama kemudian, Ayatollah Khomeini datang. Suasana ruangan berubah. Semua peserta berdiri dan menyambut kedatangannya. Setelah sambutan dari panitia dan Founder Mulasadra Press, tibalah sesi utama: Ayatollah Khomeini naik ke panggung.
Beliau menyampaikan materinya menggunakan bahasa Persia, yang kemudian diterjemahkan oleh penerjemah. Saya masih ingat satu bagian cerita yang beliau sampaikan. Ia bercerita tentang perjalanan menuju Indonesia.
Menurutnya, ketika hendak berangkat ke Indonesia, pemerintah Iran ingin mengawalnya dengan pengamanan ketat dari tentara dan pasukan pengamanan presiden. Namun ia menolak. Begitu juga ketika tiba di Jakarta dan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Pihak keamanan Indonesia ingin mengawal dengan mobil patroli polisi agar perjalanan lebih aman dan cepat. Namun ia juga menolak.
Dalam ceritanya, ia mengatakan kira-kira seperti ini: “Biarkan saya apa adanya. Saya juga manusia biasa, hamba Allah. Jika hari ini saya harus meninggal dunia, maka saya akan mati. Jika saya masih hidup, maka saya akan hidup. Karena kematian hanya berada di tangan Allah.”
Ruangan seketika hening. Beberapa peserta spontan mengucapkan “Subhanallah”, lalu diikuti tepuk tangan panjang.
Bagi saya dan David yang duduk di kursi bagian belakang, kalimat itu terasa sangat kuat. Bukan sekadar retorika seorang tokoh besar, tetapi sebuah pandangan hidup yang menunjukkan sikap tawakal yang total kepada Tuhan.
Hari itu kami pulang dari seminar dengan perasaan yang berbeda. Bukan hanya karena berhasil “menyelinap” masuk tanpa tiket, tetapi karena kami mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak akan kami dapatkan lagi.
Hari ini saya mendengar kabar yang membuat hati saya terasa berat. Ayatollah Khomeini wafat dalam sebuah serangan militer Amerika. Saya teringat kembali kalimat yang ia ucapkan di seminar itu. Tentang kematian yang sepenuhnya berada di tangan Allah.
Kalimat yang waktu itu terdengar seperti nasihat spiritual, kini terasa seperti sebuah kesaksian hidup. Saya memang bukan bagian dari politik Iran. Saya juga bukan bagian dari pergulatan geopolitik antara Iran dan Amerika. Namun sebagai seseorang yang pernah duduk di ruangan yang sama dengannya, mendengar langsung ceritanya, saya merasakan kesedihan yang sangat manusiawi.
Ada rasa kehilangan. Seorang tokoh yang pernah saya lihat secara langsung—yang suaranya pernah saya dengar di ruang seminar sederhana di Yogyakarta—kini telah pergi dalam peristiwa yang penuh ketegangan politik dunia. Saya teringat kembali wajahnya di panggung, kalimatnya yang sederhana, dan tepuk tangan para peserta seminar saat itu.
Barangkali memang begitulah hidup. Kita tidak pernah tahu di mana sebuah pertemuan kecil akan menjadi kenangan besar dalam hidup kita. Bagi saya, pagi hari di UIN Sunan Kalijaga itu bukan hanya cerita tentang dua mahasiswa kos yang nekat menyelinap masuk seminar. Lebih dari itu, ia adalah sebuah potongan sejarah kecil dalam hidup saya—tentang seorang tokoh dunia yang pernah saya dengar berbicara tentang kematian, jauh sebelum kematian itu benar-benar datang menjemputnya.
Dan hari ini, setiap kali saya mengingatnya, saya hanya bisa berdoa: Semoga Allah menerima semua amalnya, dan memberikan kedamaian bagi mereka yang wafat dalam pusaran konflik dunia yang tidak pernah sederhana.