Jombang – Ratusan pendekar dari perguruan silat Pagar Nusa (PN) menggelar napak tilas, Jumat (2/1) malam. Kegiatan ini menyambut hari lahir ke-40 organisasi di bawah NU ini.
Mereka berjalan kaki dari Kantor MWCNU Diwek. Lalu ziarah ke makam pendiri PN dan NU di Tebuireng. Dilanjut dengan Sharing Session seputar sejarah PN.
Makam yang diziyarahi adalah pendiri PN, KH Syamsuri Baidawi, di Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ) Tebuireng. Dilanjut ziarah ke makam pendiri NU di Pondok Tebuireng.
Setelah lsya, peserta diajak sharing session mengupas sejarah dan tanya jawab seputar PN.
Hadir dalam acara tersebut, Gus Anwar Kholili, Ketua Mandataris PAC PN Diwek. Juga Gus Variz Muhammad Mirza dan Gus Galih, pembina PAC PN Diwek.
Ketua panitia Harlah PN Diwek, Sayyid, mengapresiasi kehadiran peserta, “Kehadiran panjenengan semualah yang menjadi titik kesuksesan acara hari ini,” ujarnya.
Ketua mandataris PAC PN Diwek, Gus Anwar Kholili, menjelaskan urgensi yang harus ada dalam acara tersebut,
“Peringatan Harlah PN, yang penting adalah maknanya,” tuturnya. Dia berharap ke depan bisa diadakan Harlah PN yang lebih luar biasa lagi dan berisi.
Dalam sharing session, Gus Mirza menyampaikan pencak silat bukan hanya olah fisik, tapi juga olah jiwa.
“Pagar Nusa juga identik dengan pesantren, maka nilai-nilai pesantren harus ada dalam diri, seperti tidak angkuh,” ujarnya. “Kita bukan tim boxing, tapi silat adalah bagaimana cara bertahan diri,” imbuhnya.
Gus Mirza juga mengingatkan kepada peserta yang hadir agar tidak melupakan sejarah, “Kita harus ingat akar, yaitu jati diri. Boleh mengeksplorasi, tapi tidak boleh meninggalkan aspek jiwa dan rohani,” ucapnya.
Dia sangat menyayangkan, jika sudah bisa pencak silat, kemudian disalahgunakan. “Silat Pagar Nusa ini thariqah. Harus punya lakon-lakon (amalan) yang dipegang dengan kuat di kehidupan,” pintanya.
Gus Galih menekankan kualitas anggota Pagar Nusa. “Saya tidak melihat banyak sedikitnya Panjenengan, tapi saya bagaimana kualitas Panjenengan,” ujarnya.
“Kalau saya tidak butuh anggota banyak, orang 100 tapi tidak karu-karuan, lebih baik orang 10 berkualitas,” katanya. “Silakan ditekankan, sebelum tambah dulur, kuatilah pondasi kalian dulu,” pintanya.
Dia juga berharap anggota PN bertanggung jawab. “Tetap saling menghargai terhadap pencak silat satu sama lain, sebab awal berdirinya PN juga dari berbagai perguruan silat orang-orang NU yang sudah banyak didirikan sebelumnya, sehingga disatukan agar tidak bercerai-berai dan bersatu dalam mengikuti Aswaja dan NU,” tambahnya.
Dia mengaku senang terus aktif di PN. “Senang bisa nambah dulur, tapi juga harus diimbangi dengan bertambahnya kualitas,” pungkasnya. (ani)
kontributor: Ani Tazkiyatum Muammaroh, pengurus LTN MWCNU Diwek
Diskusi
Alhamdulillah, sudah berkegiatan. sehat semua.