Suluk.di, Jombang – Warung Komunitas Pecinta Kopi (KPK) Pertelon Cukir menggelar Haul Masyayikh Kiai dan Guru Kami ke-10 pada Selasa malam (22/7). Acara rutin tahunan ini diadakan sebagai bentuk kirim doa untuk para masyayikh dari Pondok Pesantren Tebuireng, Seblak, Walisongo, Pacul Gowang, Al-Masruriyah, serta pondok-pondok pesantren di sekitar Desa Cukir, Diwek, Jombang.
Digelar tepat di depan warung KPK, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi antara masyarakat dan tokoh-tokoh lintas sektor. Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Kapolsek Diwek, Danramil, Babinsa, Kepala Desa Cukir beserta Forkopimdes, banom dan lembaga NU setempat, hingga General Manager Pabrik Gula Tjoekir, Abdul Azis Purmali, yang juga menjadi salah satu sponsor kegiatan.
Kepala Desa Cukir, Sawung Agus Basuki, mengapresiasi kehadiran Pabrik Gula Tjoekir yang dinilai telah banyak berkontribusi bagi warga. “Pabrik Gula Tjoekir telah lama menjalin kerja sama dengan pemerintah desa. Banyak warga, termasuk lulusan sekolah yang tidak melanjutkan kuliah, diberi kesempatan bekerja di sana,” ujar Sawung.
Meski bersifat musiman, pekerjaan tersebut tetap memberikan penghasilan yang layak. “Upah yang diterima para pekerja bahkan bisa mencapai lima juta rupiah. Semoga PG Tjoekir terus berkembang,” ungkapnya.
Acara dimulai setelah salat Isya dengan pembacaan shalawat oleh Jam’iyyah Sholawat Kubah Ireng, dilanjutkan tahlil, serta pembagian santunan kepada anak-anak yatim oleh Pondok Pesantren Walisongo.
Ust. Abdul Mahin dalam sambutannya menyampaikan kekaguman atas konsistensi penyelenggaraan haul oleh Warung KPK. “Mungkin hanya Warung KPK yang mampu mengadakan haul seperti ini. Bahkan di Indonesia, tidak banyak yang melakukannya,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Gus Fahmi, pengasuh Pondok Putri Tebuireng. Ia menyebut bahwa inisiatif ini merupakan kegiatan luar biasa yang perlu dilestarikan.
Mauidhoh hasanah disampaikan oleh Dr. KH. Abdul Kholiq Hasan, M.H., dari Tambakberas. Dalam tausiyahnya, ia menyinggung kisah sahabat Nabi, Khalid bin Walid, yang dikenal sebagai panglima perang yang tak terkalahkan karena keberkahannya membawa beberapa helai rambut Rasulullah. “Acara ini menjadi salah satu jalan untuk ngalap barokah dari KH. Hasyim Asy’ari, KH. Adlan Aly, dan para masyayikh yang kita haul pada malam ini,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada hadirin agar tetap teguh dalam tradisi dan nilai-nilai ke-NU-an. “Kita lahir dari rahim NU, tumbuh dalam lingkungan NU, semoga kita wafat dalam keadaan NU dan dikumpulkan bersama para muassis NU. Aamiin,” pungkasnya.
Kegiatan ditutup dengan mahallul qiyam oleh Jam’iyyah Sholawat Kubah Ireng dan doa khidmat yang dipimpin KH. Nur Hadi (Mbah Bolong). Acara berlangsung khidmat dan penuh nuansa kebersamaan, memperkuat simpul spiritualitas warga Cukir dalam balutan tradisi. (har)
Pengurus LTN MWCNU Diwek Jombang