Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Kadang Kala Sedih Tak Punya Nama

Clara Sinta Pratiwi

Kadang kala ada sedih yang tak punya nama. berat di dada. seperti senja yang menggelap. Tapi Tuhan adalah satu satunya tujuan. satu satunya tumpuan. satu satunya harapan. hingga kita punya apa yang harus diusahakan dan ikhlas atas sebuah ketetapan. Dan senyum adalah bentuk rasa syukur, rasa sabar, kekuatan penerimaan dan doa yang diam-diam dipanjatkan. “Tuhan aku titipkan semuanya pada-Mu”.

Kadang kesedihan itu memang tidak selalu datang dengan alasan yang jelas. Ia hadir begitu saja, seperti awan yang menutup langit tanpa tanda-tanda hujan. Kita tidak tahu pasti apa yang menyebabkannya, tetapi dada terasa penuh dan langkah menjadi lebih berat dari biasanya. Pada saat seperti itu, manusia sering merasa rapuh, seakan kehilangan pegangan. Namun justru dalam ruang hening yang tak terjelaskan itulah, kesadaran tentang Tuhan menjadi semakin nyata.

Ketika segala sesuatu terasa kabur, Tuhan adalah satu-satunya yang tidak pernah berubah. Dunia bisa bergeser, rencana bisa gagal, dan manusia bisa mengecewakan, tetapi Tuhan tetap menjadi tujuan akhir yang menenangkan. Menjadikan-Nya sebagai tumpuan bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menyadari bahwa setiap usaha memiliki batas, sementara kehendak-Nya melampaui segala perhitungan. Ada ketenangan tersendiri ketika seseorang memahami bahwa hidup bukan sekadar tentang menguasai hasil, melainkan tentang memantaskan ikhtiar dan menerima ketetapan.

Perasaan berat di dada perlahan berubah menjadi ruang menerka-nerka. Kita belajar bahwa tidak semua kesedihan harus diberi nama; sebagian cukup diakui keberadaannya dan dibawa dalam doa. Mengikhlaskan bukan berarti menyerah, melainkan mempercayakan apa yang di luar kuasa kita kepada Yang Maha Mengatur. Di situlah keimanan bekerja secara sunyi tanpa suara keras, tanpa pertunjukan, tetapi kuat menahan jiwa agar tidak runtuh.

Ada doa-doa yang tidak selalu disuarakan dengan lantang. Di sela aktivitas, di antara kesibukan, bahkan di tengah kerumitan pikiran, hati bisa saja sedang berbisik kepada Tuhan. “Jagalah aku dari putus asa. Lapangkan hatiku. Tuntun aku dalam setiap keputusan.” Doa-doa seperti itu tidak selalu panjang, tidak selalu puitis, tetapi tulus. Dan ketulusan itulah yang membuatnya bermakna.

Hidup memang bukan perjalanan yang selalu terang. Ada masa-masa ketika senja terasa lebih panjang dari biasanya. Namun senja juga mengajarkan bahwa gelap bukan akhir dari segalanya. Setelah malam, selalu ada pagi. Begitu pula setelah masa sulit, selalu ada pelajaran yang tertinggal dan kekuatan baru yang tumbuh. Kita mungkin tidak langsung melihat hasilnya, tetapi prosesnya sedang bekerja dalam diam.

Pada akhirnya, hidup adalah perjalanan antara usaha dan memasrahkan. Kita berjalan sejauh yang mampu, berjuang sekuat yang bisa, lalu berhenti sejenak untuk mengambil ancang-ancang. Kalimat itu bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan bahwa di balik segala pergulatan manusia, ada Yang Maha Kuasa. Dan selama kita masih mampu berharap kepada-Nya, sesungguhnya kita masih punya harapan akan sebuah kebaikan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer