Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Bisa Jadi Pasanganmu Sedang Tidak Menjadi Orang Lain, Self Adjustment Dalam Film Rab Ne Bana Di Jodi

Muchamad Rudi C

Ada yang mengatakan kalau orang sudah mendapatkan pasangannya, orangnya pasti akan berubah. Apakah pernah merasakan pasangan kita berubah? Pasangan kita menjadi orang lain? Atau bahkan diri kita sendiri yang sedang mengalami perubahan. Di awal mengenal seseorang yang menarik hati kita tentu akan sangat menyenangkan bin membahagiakan. Apalagi setelah sekian lama tak kunjung datang siapa seseorang yang kita cari. Seolah menemukan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. So hype to be excited.

Akan tetapi setelah mengenal lebih jauh ternyata dia tidak seperti di awal kita mengenalnya. Semakin terlihat kekurangannya. Semakin membosankan. Bahkan mungkin pernah merasakan kehilangan jati diri kita sebagai seseorang. Artinya bisa jadi kita tidak menjadi diri kita sendiri atau pasangan merasakan tidak sama lagi seperti sebelumnya.

Saya menemukan satu hal menarik untuk menjawab hal tersebut. Setelah saya bercerita kepada seorang teman tentang fenomena tersebut, dengan sigap dia langsung teringat ada satu film menarik yang bisa ditonton untuk mencari jawaban atas permasalahan kehilangan jadi diri ketika mencintai. Film dari India berjudul “Rab Ne Bana Di Jodi” yang sudah lama rilis tahun 2008 silam. Namun beberapa soundtrack atau musik latarnya masih populer hingga sekarang. Makanya ketika saya menyelesaikan menonton film, seperti tidak asing dengan musik-musik yang mengiringi setiap adegan tari menari sebagai ciri khas film India. Tentu disclaimer dulu mungkin akan ada beberapa spoiler cerita film untuk memberikan konteks diskusi fenomena yang akan kita bahas lebih dalam.

Kembali sambil menjawab pertanyaan di awal. Manusia seiring berjalannya waktu pasti akan berubah. Berubah lebih baik ataupun sebaliknya. Begitu pula dalam konteks berpasangan. Singkatnya seperti Sharukhan pemeran utama yang memerankan dua karakter sekaligus pada Film Rab Ne Bana Di Jodi. Satu sisi memerankan seseorang bernama Suri Sahni. Suri Sahni dikenal sebagai seseorang yang berpenampilan dewasa, terlihat pandai dengan kacamata beningnya, kalem dan sebagai pekerja kantoran. Singkat cerita Suri naksir pada anak dari dosennya bernama Taani. Suri berhasil merebut hati bapaknya. Namun masih sungkan jika ingin mengungkapkan rasa sukanya pada Taani.

Ada satu kejadian Ayah Taani meninggal dunia dan menitipkan wasiat kepada Suri dan Taani untuk menikah. Terjadilah perjodohan yang pada saat itu Taani belum sama sekali tertarik bahkan suka kepada Suri. Setelah menikah mereka menjalani hidup dengan suasana tegang, serius, bahkan memutuskan untuk tidak bersama dalam satu ranjang. Bisa dibayangkan betapa sedingin itu mereka menjalani kehidupan pernikahannya dalam satu rumah.

Akhirnya Suri memutuskan untuk memerankan sosok seseorang satunya bernama Raj Kapoor. Secara penampilan dan karakter berbeda seratus delapan puluh derajat dari sosok Suri. padahal ada pada diri yang sama. Suri yang menjadi sosok Raj memutuskan untuk mendekati Taani dengan cara yang lebih menyenangkan, ceria, bersemangat dan terus menggodanya. Sangat berbeda sekali dengan pawakan Suri. Taani merasakan lebih bahagia dan menyukai perlakukan Raj pada Taani.

Dari sini sudah menimbulkan pertanyaan, apakah mencintai seseorang akan merubah diri kita seolah kita mempunyai dua kepribadian untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Pasalnya dalam konteks menjalin hubungan, pasangan – baik laki-laki maupun perempuan – pasti pernah merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika sudah menjalani waktu yang lebih lama. Tidak seperti di awal bertemu yang sedang berbunga-bunganya.

Saya pernah mengira jika melakukan perilaku seperti itu menjadi seseorang yang mempunyai “kepribadian ganda”. Dalam hal ini, kepribadian ganda dapat dikonotasikan sebagai hal yang negatif di pandangan publik. Karena seringkali diasosiasikan dengan gangguan kepribadian (personality disorder). Para penderita dianggap berbeda dengan perilaku manusia pada umumnya secara sikap, pola pikir, perilaku, perasaan berbeda dengan norma yang berlaku di masyarakat. Kepribadian ganda sendiri merujuk pada perilaku yang secara cepat berubah di mana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian atau identitas berbeda yang mengambil alih kontrol perilaku secara bergantian bahkan sampai tidak sadar akan perubahan itu.

Akan tetapi menurut salah satu psikolog yang saya temui. Bahwa tidak bisa dan mudah untuk mendiagnosa seseorang atas kepribadiannya. Membutuhkan beberapa instrumen pengukuran, salah satunya waktu dan kecenderungan perilaku secara konsisten untuk memberikan label pada diri seseorang.

Salah satu yang bisa digunakan untuk melihat perilaku Sharukhan dalam Film Rab Ne Bana Di Jodi tersebut salah satunya dengan konsep penyesuaian diri (self adjustment). Calhoun dan Acocella (1995) menjelaskan bahwa penyesuaian diri dilakukan individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Pengalaman, sikap, nilai dan objektivitas menjadi sebagai arahan pada proses penyesuaian diri dengan tujuan mengambil manfaat dari setiap pengalaman (Tyson dalam Semiun, 2008.)

Ada beberapa faktor yang memengaruhi proses penyesuaian diri. Schneider (1964) menyebutkan yakni keadaan fisik; kematangan intelektual, sosial, moral dan emosi; kondisi psikologis seperti frustasi dan konflik; lingkungan sosial; serta religiusitas dan kebudayaan.

Proses penyesuaian diri sosok Suri dan Raj sebenarnya menjadi alasan sebagai cara mencintai Taani. Apakah Taani lebih menyukai sosok laki-laki yang bersemangat, gembira dan menyenangkan daripada sosok yang dingin, pendiam, dan tidak pernah menunjukan perilaku cintanya. Sehingga Taani dapat memilih sosok yang seperti apa yang diinginkannya. Walaupun kedua sosok itu merupakan satu orang yakni suaminya. Akan tetapi karena Suri tidak sepenuhnya menjadi dirinya dalam mencintai Taani, akhirnya memaksa diri untuk berubah menjadi sosok Raj. Proses penyesuaian diri akhirnya dilakukan Suri karena Taani terlihat lebih tertarik pada sosok Raj.

Hingga pada akhirnya, Hampir saja Taani menerima Suri yang menjadi sosok Raj. Suri pun akan sepenuhnya berencana berubah menjadi sosok Raj. Tapi pada akhir babak yang menjadi inti dari puncak konflik pun terjadi dalam film. Yakni konflik yang melibatkan Tuhan.

Ketika sosok Raj menawarkan diri untuk mengajaknya pergi meninggalkan Suri, Taani dengan sadar hatinya telah digoncangkan saat itu juga. Dengan pikiran dia sudah menjadi istri dari Suri. Menurut Taani pernikahan adalah sesuatu hal yang suci. Apalagi merupakan janji kepada Almarhum sang Ayah. Begitu pula dengan Suri yang setelah mencari petunjuk dari Tuhannya ternyata Taani memang menjadi jawabannya. Sosok Taani muncul dalam proses pencarian petunjuknya (dalam Islam proses istikhoroh). Hal itu diikuti pula oleh Taani yang juga memasrahkan diri kepada jawaban Tuhannya, munculah sosok Suri sebagai jawabannya.

Pada akhirnya suatu adegan penutup sebagai akhir cerita film. Taani yang mengikuti lomba berdansa dan seharusnya berpasangan dengan Raj, ternyata Raj tak kunjung hadir. Tiba-tiba munculah sosok Suri lengkap dengan pakaian yang terlihat formal, namun saat itu berperilaku seperti Raj yang lihai seperti pasangan dansanya. Dengan maksud Suri ingin menunjukan bahwa sosok Raj adalah sisi lain dari diri Suri. Artinya sebenarnya Suri takut untuk tidak dicintai jika menjadi sosok Raj, atau Raj takut tidak dicintai jika menjadi sosok Suri. Cerita berakhir dengan proses mengkomunikasikan antara Suri dan Taani bahwa Suri mempunyai sisi lain karakternya dan Taani mencintai Suri dengan menerima latar belakang Suri. Happy Ending.

Demikian, memang sebenarnya tidak ada yang berubah dengan pasangan ketika sebelum dan sesudah mendapatkan pujaan hatinya. Yang ada adalah proses penyesuaian diri (self adjustment) dan beberapa faktor psikologis lain yang dapat dianalisis lebih panjang. Tidak hanya berlaku pada konteks pasangan. Kita berhadapan dengan orang yang baru atau lama pasti akan melalui proses penyesuaian diri. Bagaimana perilaku ketika bertemu sosok Kiai, Presiden, teman atau orang baru lainnya akan memiliki kecenderungan sikap berbeda-beda. Bukan berarti pula dengan mudah melabeli diri sebagai dari penderita gangguan diri (personality disorder). Karena sekali lagi mendiagnosa membutuhkan indikator dan waktu yang panjang. Semua masih dalam ranah aman cara berperilaku jika tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita semua. Wallahu A’lam.

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer