Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Prof Akhyak dengan Segala Ceritanya

Amrullah Ali Moebin
· Diperbarui 22 March 2026

Saya tidak pernah benar-benar akrab dengan Prof. Akhyak. Hubungan kami tidak sampai pada jenis kedekatan yang sering berbagi cerita panjang dari hari ke hari. Namun ada satu momen yang membuat saya merasa pernah berada cukup dekat dengannya: sebuah perjalanan ke Jakarta pada pertengahan 2023.

Perjalanan itu sebenarnya tidak panjang. Hanya beberapa hari kegiatan. Namun justru dari situ saya melihat sosok Prof. Akhyak lebih dekat daripada yang pernah saya lihat sebelumnya. Kami pernah duduk semeja makan, berbincang santai dengan suasana yang gayeng dan tanpa sekat. Dalam suasana seperti itu, saya merasakan bahwa dia tidak pernah menempatkan dirinya sebagai seorang profesor yang harus dijaga jaraknya.

Tidak ada bahasa formal yang kaku dalam obrolan kami. Percakapan mengalir saja, dari soal kehidupan sehari-hari hingga rencana-rencana yang ingin beliau lakukan ke depan. Cara berbicaranya membuat orang merasa setara. Rasanya bukan sedang berbincang dengan seorang guru besar, tetapi dengan seseorang yang menikmati hidup dengan santai dan terbuka.

Malam harinya sempat mengajak saya ziarah ke salah satu kawasan di Jakarta. Ajakan itu sebenarnya menarik, tetapi tubuh saya sudah menyerah. Badan sudah terasa melas, dan saya sudah berada di dalam selimut. Dengan sedikit rasa sungkan saya hanya menjawab singkat, ngapunten, Prof. Beliau tidak memaksa dan tidak pula menertawakan keadaan itu. Ia hanya menerima jawaban tersebut dengan ringan, seperti menerima banyak hal lain dalam hidup.

Dari perjalanan singkat di Jakarta itu saya mulai menyadari satu hal, Prof. Akhyak adalah orang yang tampaknya hampir tidak pernah tersinggung. Sikapnya santai dan terbuka, bahkan kepada orang yang tidak terlalu dekat dengannya. Ia juga tipe orang yang mudah membantu orang lain. Jika ada yang bisa ia lakukan untuk membantu, biasanya ia akan melakukannya saja.

Beberapa teman bahkan memiliki julukan khusus untuk beliau: orang sakti. Julukan itu tentu bukan dalam arti mistik, tetapi lebih pada ketahanan hidup dan energinya yang seolah tidak pernah habis. Di tengah kesibukan kampus, dinamika organisasi, dan berbagai tanggung jawab yang sering membuat orang kelelahan, Prof. Akhyak justru sering terlihat energik. Ia tampak riang, sumeh, dan hampir selalu dengan wajah yang cerah.

Kami jarang sekali melihat beliau sakit. Seolah-olah tubuhnya memiliki cadangan energi yang tidak mudah habis. Padahal jika melihat aktivitasnya, kehidupan beliau sebenarnya sangat padat. Kampus, organisasi, kegiatan sosial, hingga berbagai forum keagamaan sering kali menjadi bagian dari kesehariannya.

Di dunia akademik, Prof. Dr. H. Akhyak, M.Ag dikenal sebagai salah satu guru besar di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Ia dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang filsafat pendidikan Islam pada tahun 2016. Dalam pidato pengukuhannya ia menekankan pentingnya revitalisasi peran pendidik dalam membangun pendidikan karakter di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.

Dalam perjalanan kariernya di kampus, ia juga dipercaya memegang berbagai tanggung jawab penting, termasuk sebagai Direktur Pascasarjana UIN Tulungagung. Dari posisi itu ia banyak terlibat dalam pengembangan pendidikan pascasarjana, pembimbingan riset, serta penguatan budaya ilmiah di kalangan dosen dan mahasiswa.

Namun kehidupan Prof. Akhyak tidak hanya berhenti pada dunia akademik. Ia adalah seorang organisator yang lama berproses dalam tradisi organisasi keagamaan dan kepemudaan. Dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, ia dikenal pernah memimpin Gerakan Pemuda Ansor di Tulungagung. Pengalaman itu membuatnya akrab dengan dunia kaderisasi dan dinamika organisasi anak muda.

Selain di Ansor, ia juga aktif dalam dunia kepanduan. Prof. Akhyak pernah dipercaya memimpin Gerakan Pramuka di tingkat kabupaten Tulungagung. Melalui kegiatan kepanduan, ia sering menekankan pentingnya kemandirian, disiplin, dan kepemimpinan bagi generasi muda. Dalam banyak kesempatan ia melihat pramuka bukan sekadar organisasi kegiatan, tetapi ruang pendidikan karakter yang sangat penting bagi masa depan anak-anak muda.

Barangkali pengalaman panjang di berbagai dunia itulah yang membuat cara berpikir beliau dalam mengelola lembaga sering kali terasa berbeda. Prof. Akhyak memiliki gaya kepemimpinan yang khas. Dalam mengelola lembaga, ia sering menghadirkan ide-ide yang tidak selalu mudah dipahami pada awalnya. Kadang gagasannya terdengar tidak logis, bahkan bagi sebagian orang mungkin terasa terlalu berani.

Namun begitulah beliau bekerja. Ia tampaknya tidak terlalu takut pada kemungkinan gagal. Bagi beliau, sebuah lembaga seringkali justru membutuhkan terobosan yang berani agar bisa bergerak lebih jauh. Sesuatu yang terlihat aneh pada hari ini bisa saja menjadi keputusan yang paling tepat pada waktunya.

Kabar tentang wafatnya Prof. Akhyak saya terima di tengah suasana Idulfitri. Saat orang-orang biasanya saling mengirim kabar baik dan memperpanjang silaturahmi, tiba-tiba datang berita duka yang membuat banyak orang terdiam. Dalam suasana seperti itu, saya tiba-tiba teringat kembali percakapan santai kami di meja makan Jakarta.

Saya teringat tawa yang ringan itu. Saya juga teringat cara beliau melihat hidup tanpa terlalu banyak beban. Barangkali itulah salah satu hal yang membuat banyak orang merasa nyaman berada di dekatnya.

Selamat jalan, Prof. Kenangan tentang percakapan sederhana itu mungkin tidak terlalu besar dalam hidup Anda. Namun bagi saya, momen kecil itu cukup untuk mengenang satu hal penting tentang diri Anda: cara menjalani hidup dengan ringan.

Kami akan selalu ingat satu kalimat sederhana yang sering Anda ucapkan. Kalimat itu terdengar biasa saja, tetapi sering membuat banyak hal terasa lebih ringan ketika diucapkan. Semua orang pasti mengingatnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer