Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Kartini, Perempuan dan Pendidikan

Mukani
· Diperbarui 21 April 2026

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964 menetapkan bahwa tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini di Indonesia. Momentum ini untuk menghormati perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam emansipasi perempuan dan pendidikan. Keputusan yang ditandangani tanggal 2 Mei 1964 ini juga memuat penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Sosok Inspiratif

RA Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879. Mengenyam pendidikan di Europheesche Lagere School (ELS), semacam sekolah dasar Eropa, tahun 1885. Kesempatan ini diperoleh karena Kartini berasal dari keturunan bangsawan dan priyayi Jawa. Ayahnya adalah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya Mas Ajeng Ngasirah.

Menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat tahun 1903. Wafat di Rembang tanggal 17 September 1904 setelah melahirkan Soesalit Djojoadhiningrat. Sepeninggal Kartini, sekolah yang dirintis diteruskan saudari kandungnya.

Surat-suratnya ke Rosa Abendanon, teman koresponden Kartini yang ada di Belanda, dikumpulkan menjadi buku berjudul Door Dusternis Tot Licht. Pada tahun 1922, oleh Armijn Pane, sastrawan besar Pujangga Baru, buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Berbagai pernak-pernik perjuangan Kartini direkam kisahnya dalam dua buah museum. Baik Museum Kartini di Rembang yang berdiri sejak 21 April 1967. Maupun museum RA Kartini di Jepara yang dibangun sejak 30 Maret 1975 dan diresmikan tanggal 21 April 1977.

Di negeri Belanda, nama Kartini cukup dikenang sebagai orang Indonesia yang berjuang bagi kaum perempuan. Di wilayah Amsterdam Zuidoost, yang lebih dikenal dengan Bijlmer, ada jalan bernama Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap. Di dekat situ juga ada beberapa jalan yang diberi nama pejuang perempuan dari berbagai negara, seperti Rosa LuxemburgNilda Pinto maupun Isabella Richaards.

Di kota Utrecht, terdapat jalan utama bernama Jalan RA Kartini atau Kartinistraat. Jalan ini berbentuk ‘U’ yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya, seperti Augusto SandinoSteve BikoChe Guevara dan Agostinho Neto.

Di kota Venlo, Belanda daerah selatan, nama RA. Kartinistraat berbentuk ‘O’ ada di kawasan Hagerhof. Di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut. Sedangkan di kota Haarlem, terdapat jalan Kartini yang berdekatan dengan jalan Mohammed HattaSutan Sjahrir dan langsung tembus ke jalan Chris Soumokil, presiden kedua Republik Maluku Selatan (RMS).

Tiga disertasi terbaru menunjukkan adanya pengaruh besar KH Sholeh Darat Semarang kepada pemikiran dan gerakan Kartini. Ketiganya disertasi Muchayyar HS (2000), Ghazali Munir (2007) dan Ali Mas’ud Khalqillah (2018). Ketertarikan Kartini kepada pandangan visioner KH Sholeh Darat berbentuk sistem kepengasuhan dalam pola pendididikan yang diterapkan Bupati Demak saat itu, Pangeran Ario Tjokrodiningrat. Aplikasi Bupati Demak itu sebagai konteks implementasi dari berbagai pengajian KH Sholeh Darat yang disampaikan di Pendopo Demak.

Fakta ini mencapai puncaknya saat Kartini mulai turut serta dalam pengajian Tafsir Surat al-Fatihah pada hari Ahad (Minggu), tepat dua tahun sebelum dia menikah. Keterpukauan Kartini ini disampaikan langsung kepada KH Sholeh Darat agar berkesinambungan dalam mengajarkan Islam, yang bersumber dari tafsir al-Qur’an, melalui pengajian-pengajian kepada masyarakat awam.

Pada titik ini menjadi relevan saat KH Sholeh Darat kemudian menulis kitab tafsir berbahasa Jawa berjudul Tafsir Faidhur Rohman. Kitab ini ditulis pada akhir abad XIX Masehi dengan menggunakan aksara Arab-Pegon. Tidak heran jika kemudian Tafsir Faidhur Rohman ini menjadi salah satu tafsir 30 juz pertama di Nusantara yang menggunakan bahasa Jawa.

Pendidikan Perempuan

Terdapat dua tokoh pendidikan perempuan di Indonesia yang bergelar syaikhah. Ini adalah gelar yang menunjukkan kapasitas keilmuan yang mendalam dari tokoh yang menerima. Keduanya adalah Rahmah El-Yunusiyah (1900-1969) dan Khoiriyah Hasyim (1908-1983).

Nama pertama sudah ditetapkan oleh Presiden RI menjadi pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/2025 tanggal 6 November 2025. Dia adalah tokoh pendiri Diniyah Puteri di Padang Panjang Sumatera Barat. Ini adalah lembaga pendidikan perempuan pertama di Indonesia.

Nama kedua adalah anak pertama dari pasangan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqoh. Riset mendalam sudah dilakukan Muzayyanah Hamas (1997). Ini menjadi riset pertama yang kemudian menjadi referensi primer dari setiap penelitian yang dilakukan pada waktu setelahnya tentang sosok Khoiriyah Hasyim. Termasuk tesis Eka Sri Mulyani berjudul Women From Traditional Islamic Educational Institutions in Indonesia yang kemudian diterbitkan oleh Amsterdam University Press (2012).

Khoiriyah Hasyim, lanjut Hamas, adalah sosok pertama yang berani mendirikan sekolah khusus perempuan (Madrasatul Banat) tahun 1942 di daerah Syamiyah, Mekkah. Ini adalah sekolah khusus putri pertama yang berdiri di Kerajaan Arab Saudi. Terlebih saat itu stigma kaum perempuan di Arab Saudi hanya mengurusi domestik.

Hal ini menjadikan nama Khoiriyah diabadikan dalam buku berjudul al-Mamlakah al-‘Arabiyah al-Su’udiyah al-Yaum yang diterbitkan oleh Departemen Penerangan Arab Saudi. Khoiriyah ditulis sebagai sosok perempuan pejuang yang sangat kuat dan pemberani dalam mewujudkan pendidikan bagi kaum perempuan. Abdulaziz bin Abdul Rahman al-Saud, raja Arab Saudi ketika itu, memberikan penghargaan berupa cincin kepada sosok Khoiriyah.

Perjuangan Khoiriyah untuk mengangkat derajat kaum perempuan ini sudah dimulai saat merintis pendirian Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang bersama sang suami, KH M Ma’shum Ali. Pesantren ini berdiri sejak 1921 dan berlokasi hanya sekitar 200 meter barat makam Gus Dur Tebuireng. Hingga sekarang, pesantren ini kokoh berdiri dengan berbagai unit pendidikan mulai TK hingga Aliyah.

Di Surabaya, sosok Khoiriyah juga berpartisipasi aktif dalam mendirikan Yayasan Khadijah Wonokromo. Komitmen perjuangannya untuk mengangkat derajat kaum perempuan juga disuarakan saat dirinya menjadi salah satu pengurus syuriah PBNU.

Khoiriyah menghembuskan nafas terakhir di RSUD Jombang. Jenazahnya dimakamkan di area maqbaroh Pesantren Tebuireng.

Penulis : Mukani – Guru Ahli Madya SMAN 1 Jombang dan Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer