IKN, 27 Maret 2026 – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan salat Jum’at pertama di bulan Syawal 1447 H di Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN), hari Jumat (27/3). Khutbah Jum’at disampaikan oleh Dr. KH. Moh. Mahrus, selaku Alumni Madrasah Tsanawiyah Tebuireng (1993) dan MASS Aliyah (1996) Seblak Jombang Jawa Timur, yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Tampak hadir pula Drs. H. Alimuddin, Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN).
Dalam khutbahnya, Rais Syuriah PCNU Kota Samarinda ini mengangkat tema “Membumikan Nilai Ketaqwaan dalam Keseharian”. Dia menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadhan tidak cukup dimaknai sebagai ritual semata. “Lebih dari itu, nilai-nilai ketakwaan yang ditanamkan selama bulan suci Ramadhan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari,” ujarnya lantang.
Ia menjelaskan, puasa sejatinya mendidik manusia menjadi pribadi yang berintegritas dan disiplin. Nilai tersebut tercermin dari sikap tunduk dan patuh terhadap aturan, baik dalam aspek ibadah maupun kehidupan sosial. “Ketakwaan harus tampak dalam konsistensi sikap, bukan hanya pada saat Ramadhan, tetapi juga setelahnya,” imbuhnya.
Selain itu, puasa juga mengajarkan pentingnya hidup hemat dan sederhana, serta menjauhi perilaku berlebih-lebihan seperti boros dan mubazir, efisiensi sebuah keniscayaan. Menurutnya, pengendalian hawa nafsu menjadi kunci dalam membentuk karakter yang mampu memprioritaskan kebutuhan dan keperluan hidup, daripada sekadar memenuhi keinginan hawa nafsu.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya orientasi pada rezeki yang halal serta memperbanyak amal kebajikan sebagai bentuk kesinambungan ketakwaan. “Hal ini tidak hanya berdampak pada kehidupan individu, tetapi juga membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas, lingkungan, bahkan semesta,” jelasnya.
Dalam konteks pembangunan nasional, ia turut mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan kehadiran Ibu Kota Nusantara sebagai “Kota Dunia Untuk Semua”. Ia berharap, pembangunan IKN tidak hanya berorientasi kepada kemajuan fisik, tetapi juga mampu menghadirkan kebaikan yang berkelanjutan (sustainable).
“Nilai ketakwaan harus menjadi fondasi dalam membangun peradaban. IKN diharapkan menjadi simbol umat yang mampu merawat jagad dan menciptakan kehidupan yang harmonis serta berkeadaban,” tutur pria asal Mojokerto ini.
Khutbah Jum’at ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menjaga konsistensi nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Sekaligus menjadi refleksi spiritual dalam menyambut peran besar masyarakat dalam pembangunan masa depan bangsa. (muk)