Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Matikan Kompormu, Kawan

Ahmad Yuzki Arifian Nawafi
· Diperbarui 28 March 2026

Rasanya kita perlu memberi sedikit apresiasi kepada Bahlil Lahadalia. Pernyataan tentang himbauan mematikan kompor setelah masakan matang mungkin terdengar sepele—terutama di musim Opor seperti sekarang. Pernyataan sederhana itu menjadi menarik: bukan untuk diperdebatkan isinya, tetapi untuk dibaca sebagai praktik komunikasi politik.

Dalam komunikasi politik, terdapat sejumlah prinsip dasar yang kerap menjadi pijakan dalam penyusunan pesan: relevansi atau kedekatan dengan pengalaman audiens, kesederhanaan dan kejelasan, kredibilitas komunikator, nilai informatif, konsistensi dengan realitas publik, serta bagaimana tanggung jawab didistribusikan dalam narasi yang dibangun (lihat Doris A. Graber, 2001; William L. Benoit, 1995). Prinsip-prinsip ini jarang berjalan seimbang; ketika satu aspek menguat, aspek lain kerap ikut melemah.

Pesan ini kuat pada relevansi, kesederhanaan, dan kejelasan. Ia dekat dengan keseharian dan mudah dipahami, tetapi hampir tidak menawarkan hal baru. Di situ, posisi komunikator menjadi rentan—bukan karena pesannya keliru, melainkan karena tidak menghadirkan kedalaman yang sepadan dengan perannya. Dari kesederhanaan itu, ruang untuk pembacaan yang lebih jauh mulai terbuka.

Dalam tradisi studi komunikasi, seperti dijelaskan oleh Robert N. Entman (1993), framing bukan sekadar cara menyederhanakan pesan, melainkan proses memilih realitas—menentukan aspek mana yang ditonjolkan dan mana yang dikesampingkan.

Isu besar seperti efisiensi energi akibat konflik di Timur Tengah kemudian hadir dalam bentuk yang sangat mikro: tindakan mematikan kompor. Pelan-pelan, cara kita melihat persoalan ikut bergeser. Energi terasa seperti urusan kebiasaan individu, bukan lagi soal kebijakan, distribusi sumber daya, atau tata kelola yang lebih luas.

Kalau memakai kacamata Erving Goffman (1974), frame bekerja seperti “petunjuk membaca” realitas. Ketika yang terus diulang adalah tindakan sehari-hari, kita pun cenderung melihat solusi cukup berhenti di situ—di level personal.

Pesan ini juga bisa dibaca sebagai cara mengisi ruang komunikasi publik—mungkin di saat banyak orang menunggu penjelasan yang lebih substantif soal energi. Tapi yang muncul justru sesuatu yang sangat dasar. Akhirnya, percakapan pun tetap di permukaan: perhatian diarahkan ke hal yang paling dekat dan mudah dilakukan, sementara sisi yang lebih kompleks perlahan menjauh dari pembicaraan.

Di sini terlihat pergeseran yang halus. Seperti dijelaskan oleh Dennis Chong dan James N. Druckman (2007 cara isu dibingkai ikut membentuk cara publik memahami masalah—termasuk ke mana tanggung jawab diarahkan. Ketika persoalan dipersempit ke tindakan individu, tanggung jawab pun pelan-pelan ikut bergeser ke sana. Alurnya mengikuti logika pesan itu sendiri. Isu yang sebenarnya bersifat struktural terasa cukup dijawab lewat praktik keseharian, sementara peran negara makin menjauh dari pusat perhatian. Yang tersisa tinggal pesan yang terasa dekat dengan keseharian.

Pernyataan yang tampak sederhana dalam komunikasi politik bisa membuka cara baca yang lebih dalam—bahwa pesan tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara kita memahami masalah, mengarahkan perhatian, menggeser tanggung jawab, dan selalu bisa dibaca dari berbagai sudut pandang. Sampai ketemu di kelas Komunikasi Politik.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer