Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Pesan Dari Ngaji Kehidupan Prof. Maftukhin

Muchamad Rudi C
· Diperbarui 20 May 2026

Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu orang akan merasa kehilangan sekaligus mengenang sosok sederhana nan bersahaja sehingga dikenal baik oleh banyak orang: Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag. Tidak salah jika saya menggunakan kata ribuan bahkan puluhan ribu orang. Karena kiprah beliau telah dikenal banyak orang.

Misalnya dari kalangan Mahasiswa saja. Sejumlah kurang lebih sudah mencapai ribuan mahasiswa setiap angkatannya. Ketika beliau menjabat sebagai pimpinan Ketua STAIN Tulungagung, Rektor IAIN Tulungagung, hingga UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sejak tahun 2010 hingga tahun 2024. Belum lagi dari kalangan kolega pimpinan, dosen, kader organisasi hingga alumni pondok. Semua seperti terjalin dengan langgeng.

Sosok Prof. Maftukhin bukan dikenal karena posisi atau dari gelarnya saja. Tapi karena kepiawaiannya berhubungan dengan banyak orang. Sikap tidak muluk-muluk, membuat kesan dekat dengan orang yang baru ditemuinya. Dari parasnya cukup melekat yakni senyuman yang lebar, ramah, dan tulus dalam setiap sapaan kepada orang-orang yang ditemuinya. Termasuk kepada mahasiswa.

Saya mungkin kebanyakan orang ketika menjadi mahasiswa, tentu sangat tidak asing dengan celetukan atau guyonan yang beliau berikan di antara sela-sela sambutan di atas podium. Kami terkekeh bahkan sampai pernah tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. Akan tetapi semua itu tidak lepas dari keluasan dan kedalaman ilmu yang disampaikan melalui dawuh-dawuh beliau. Seperti seorang santri tentu sangat khas sekali dengan suasana pondok. Bersenda gurau namun tetap kaya akan ilmu. Seseorang yang tegas dan bijaksana dalam kepemimpinan serta visioner dengan komitmen yang kuat.

Perangai sederhana dan bijaksana tetap melekat dimanapun posisi beliau. Saya sendiri memang bukan orang yang cukup dekat dengan beliau. Karena secara posisi saya juga bukan siapa-siapa. Tapi beliaulah yang berkenan dengan kerendahan hatinya untuk dekat bahkan bercakap bertatap muka langsung dengan saya sebagai mahasiswanya. Pertemuan itu terjadi, tepat ketika saya sedang mampir di salah satu acara NU di Jombang sekitar tahun 2024 silam. Secara tidak sengaja saya melihat beliau berjalan masuk menuju lokasi acara. Mengenakan busana muslim putih, berkopiah hitam, bersarung putih bercorak batik bersama beberapa orang yang saat itu belum cukup saya kenal.

Sontak langsung saya berdiri dari lesehan, menyapa dan menyambut dengan menjabat tangan beliau. Seperti murid bertemu dengan guru sebagaimananya. Yang membuat saya tambah kaget adalah ketika beliau lebih memilih berhenti, ikut duduk ngemper jagongan bersama saya dan teman saya.

Dari awal memang tidak ada hubungan serius apapun. Saya hanya mengenal beliau sebagai Rektor dan saya hanya sebagai mahasiswanya yang bahkan tidak pernal beliau kenal sama sekali. Saya mengira akan sangat canggung dan menjaga jarak. Ternyata tidak seperti apa yang saya kira. Di atas podium dan di emperan lesehan saya masih menemukan orang yang sama. Sebagai seorang yang rendah hati, biasa-biasa saja, penuh dengan humor, akan tetapi tetap bijaksana, bersahaja dengan ilmu-ilmunya. Saya menyimak dengan seksama cerita-cerita tentang Filsafat dan Jawa sebagaimana khas dari keilmuan beliau. Walaupun saya tidak nyambung, tetapi beliau tetap menceritakan dengan sangat serius, antusias dan tetap menganggap saya sebagai teman berceritanya. Begitulah memang perangai rendah hati dan sederhana beliau yang tidak pernah dibuat buat.

Ternyata pertemuan pertama berlanjut ketika beliau mengadakan pengajian bertajuk “Ngaji Kehidupan” pasca purna tugas sebagai Rektor. Beliau membacakan kitab Qasidah Burdah kemudian menerangkannya. Ada satu dawuh beliau yang masih benar-benar saya catat. Bahkan beberapa hari lalu baru saya sampaikan kepada teman saya. Dalam bahasa jawa “Urip iku ora mbayar, kok isek golek bati (hidup itu tidak bayar, tetapi kok masih mencari untung)”. Pada konteks tersebut, beliau menyampaikan bahwa tidak perlu mencari banyak-banyak keuntungan dunia, sehingga berbagai macam cara dilakukan. Termasuk mencari dunia untuk memperkaya diri sendiri. Padahal Gusti Allah menghidupkan manusia sudah dengan bekalnya. Artinya dengan usaha dan do’a Gusti Allah pasti mencukupi.

Jujur saya mencatat baik-baik kutipan pesan yang beliau sampaikan. Memang benar dan nyambung dengan apa yang saya rasakan di beberapa kesempatan. Kadang kala ketika mengejar apa yang kita inginkan justru akan merasa sangat lelah bahkan tidak mendapatkannya. Akan tetapi jika sudah berserah (Jawa: nyelehne) setelah berusaha, Gusti Allah akan memberikan apa yang dibutuhkan bahkan melebihi keinginan itu. Begitu pula seperti rejeki yang datang dalam bentuk apapun maupun yang akan pergi. Seperti seolah beliau mengajarkan untuk ikhlas saja.

Dari beberapa orang yang saya temui dan cukup dekat dengan beliau menceritakan pengalaman-pengalaman saat mengenal beliau. Beberapa diantaranya mengenal beliau sebagai sosok pengkader handal. Beliau pasti mendukung para juniornya untuk terus berkembang. Seringkali meluangkan waktu dan tempat untuk proses tersebut. Sehingga kedekatan itu yang membuat mahasiswanya saat itu sekarang berhasil menempati prestasi-prestasi posisi strategis. Tidak hanya itu, pasti lebih banyak cerita dari pengalaman baik lain yang beliau lakukan. Semua itu tetap terkenang baik oleh para kader, kolega, mahasiswa dan orang-orang dekatnya.

Memang sekarang Prof Maftukhin tidak dapat lagi men-dawuh-kan secara langsung. Tapi pesan-pesan baik secara tersirat atau tersurat yang sudah beliau berikan kepada mahasiswa, kolega, dan orang-orang terdekatnya tentu masih melekat abadi diingatan. Maka benar jika berita duka Rabu, 20 Mei 2026 pagi tadi bukan sebagai bentuk kepergian saja. Tetapi untuk mengenang jasa, usaha, jerih payah, beserta pesan-pesan Guru Besar Bidang Filsafat ini: Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag. Saya dan puluhan ribu orang bersaksi panjenengan tiyang sae Prof. Sederhana, tegas, menyenangkan, dan tetap bijaksana. Dengan kebaikan, sholawat, serta keilmuan beliau, Insyaallah Gusti Allah pasti memberikan balasan tempat yang lebih baik lagi. Alfatihah.

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer