Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Dorong Digitalisasi dan Akses Pendidikan Inklusif, Coaching Clinik Tekankan Peran Strategis Santri dalam PMB-PTKIN 2026

Ahmad Misbakhul Amin
· Diperbarui 18 January 2026

Tulungagung — Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam terus memperkuat transformasi pendidikan pesantren melalui integrasi digital dan perluasan akses pendidikan tinggi. Hal ini ditegaskan dalam kegiatan Coaching Clinik sosialisasi dan penguatan SPAN-UM PTKIN yang dilaksanakan secara daring pada Sabtu, 17 Januari 2026, pukul 09.00–12.00 WIB.

Kegiatan dihadiri langsung Ketua Panitia Nasional PMB-PTKIN sekaligus Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Abd. Aziz, Direktur Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Basnang Said, serta Tim Pokja SSE PMB PTKIN. Turut mengikuti kegiatan ini satuan pendidikan pesantren tingkat Ulya, meliputi Satuan Pendidikan Muadalah (SPM), Pendidikan Diniyah Formal (PDF), dan Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS) dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Prof. Abd. Aziz, mengajak seluruh satuan pendidikan pesantren, baik SPM, PDF, maupun PKPPS, untuk bersama-sama menyukseskan program Seleksi Prestasi Akademik Nasional Ujian Masuk PTKIN (SPAN-UM PTKIN). Ia menegaskan bahwa PTKIN, telah mengalami transformasi pesat, tidak hanya dalam pengembangan ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga ilmu umum dan keilmuan alat yang berbasis pada kemaslahatan umat.

“Transformasi ini merupakan wujud komitmen PTKIN dalam menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga identitas keislaman, untuk itu mari saudara sama-sama berjalan menyukseskan agenda SPAN dan UM-PTKIN tahun 2026 ini” ungkapnya.

Sementara itu, Banang Said menegaskan bahwa digitalisasi pesantren harus dipahami sebagai bagian dari dakwah Islam. Menurutnya, sistem digital pesantren tidak hanya berfungsi sebagai sarana administrasi, tetapi juga sebagai medium penyediaan kitab rujukan, materi pembelajaran, serta berbagai kebutuhan santri yang terintegrasi secara menyeluruh.

“Digitalisasi pesantren merupakan bagian dari dakwah. Karena itu, seluruh kebutuhan pesantren, mulai dari kitab, materi pembelajaran hingga kebutuhan santri, perlu terakomodasi secara utuh dalam sistem digital, itu semua dapat Anda temui di berbagai PTKIN yang bernaung di bawah Kementerian Agama ” ujarnya.

Lebih lanjut, Banang Said menekankan pentingnya arah pendidikan santri yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Santri diharapkan tidak hanya berfokus pada disiplin keilmuan keagamaan, tetapi juga mampu mengambil peran strategis di bidang-bidang umum seperti farmasi, keperawatan, kedokteran, dan disiplin ilmu lainnya yang dibutuhkan masyarakat luas.

Pada sesi berikutnya, Haris Setiadjie dari UIN Jurai Siwo Lampung menyampaikan materi teknis terkait pendaftaran Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). Ia menjelaskan bahwa hingga 7 Februari 2026, tahapan SPAN-UM PTKIN berada pada proses pengisian PDSS dan pendaftaran sekolah dalam sistem.

Ia menyampaikan tata cara dan secara langsung mempraktikkan proses pendaftaran PDSS. Tahap demi tahap dilakukan  dan antusiasme peserta tampak kelihatan. Setidaknya tercatat ada sembilan penanya di tiga sesi pembukaan pertanyaan. beberapa hal yang ditanyakan seputar kendala pendaftaran teknis, pergantian kepala sekolah, regulasi untuk registrasi ulang, ketidaksamaan kurikulum dan lain sebagainya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan satuan pendidikan pesantren di seluruh Indonesia semakin siap dan aktif dalam mengawal proses SPAN-UM PTKIN, sekaligus memperkuat peran pesantren dalam menyiapkan generasi santri yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing di era digital.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer