Sumberdadi, 24 Juli 2026 – Di banyak tempat, kegiatan berbagi pada hari Jumat identik dengan nasi kotak atau makanan siap saji. Namun suasana berbeda terlihat di SDN 01 Sumberdadi. Sejak pagi aneka sayuran segar hasil kebun warga mulai berdatangan satu per satu. Ada kangkung, bayam, sawi, cabai, terong, hingga mentimun yang masih tampak baru dipetik. Di sampingnya tersusun telur, tahu, dan tempe yang kemudian dikemas menjadi paket pangan untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar. Suasana sederhana itu menghadirkan pesan yang kuat: berbagi tidak selalu tentang makanan yang telah matang, tetapi juga tentang menghadirkan bahan pangan bergizi yang dapat diolah bersama keluarga.
Melalui program bertajuk Eco Friday, mahasiswa KKN Desa Sumberdadi Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung bersama SDN 01 Sumberdadi mencoba menghadirkan wajah baru dari kegiatan berbagi. Program ini tidak hanya mengajak masyarakat untuk bersedekah, tetapi juga memperkenalkan bahwa hasil kebun rumah, sekecil apa pun, memiliki nilai yang besar ketika dikumpulkan dan dibagikan kepada sesama. Sayuran yang dipanen dari pekarangan warga, dipadukan dengan sumber protein seperti tahu, tempe, dan telur, menjadi simbol bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh dari potensi yang dimiliki masyarakat sendiri tanpa harus bergantung pada bantuan dari luar.
Konsep tersebut berangkat dari keyakinan bahwa sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membangun budaya hidup yang berkelanjutan. Gagasan tersebut sejalan dengan konsep Sustainable Food System yang dikembangkan Food and Agriculture Organization (FAO). Sistem pangan yang berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang kecukupan pangan, tetapi juga bagaimana pangan diproduksi, didistribusikan, dan dimanfaatkan dengan memaksimalkan potensi lokal. Eco Friday memperlihatkan bahwa hasil kebun warga dapat menjadi bagian dari rantai pangan yang lebih bermakna. Ketika sayuran yang dipanen pagi hari berpindah ke tangan masyarakat yang membutuhkan pada hari yang sama, nilai keberlanjutan tidak lagi berhenti sebagai konsep, melainkan hadir dalam praktik sehari-hari.
Lebih jauh, Eco Friday juga menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak selalu dimulai dari kegiatan menanam pohon atau memilah sampah. Melalui pendekatan Community-Based Environmental Education, sekolah justru mengajak masyarakat menjadi bagian dari proses belajar. Anak-anak belajar mengenai kepedulian terhadap lingkungan melalui tindakan yang mereka lihat secara langsung, sementara orang tua menjadi contoh nyata bahwa menjaga bumi dapat diwujudkan dengan memanfaatkan hasil kebun secara bijaksana dan berbagi kepada sesama. Program ini juga memperlihatkan kuatnya modal sosial masyarakat Desa Sumberdadi. Sosiolog Robert D. Putnam menjelaskan bahwa kepercayaan, gotong royong, dan partisipasi warga merupakan fondasi utama dalam membangun komunitas yang Tangguh. Nilai tersebut tampak dalam Eco Friday ketika sekolah, wali murid, siswa, dan mahasiswa KKN menjalankan peran masing-masing tanpa sekat.
Eco Friday pada akhirnya bukan sekadar agenda berbagi setiap hari Jumat. Ia menjadi cerita tentang bagaimana sebuah sekolah mampu merawat hubungan antara manusia, alam, dan masyarakat dalam satu gerakan yang sederhana namun bermakna. Barangkali yang dibagikan hari itu hanya beberapa ikat sayur, sebutir telur, atau sebungkus tempe. Namun dari tangan-tangan yang saling memberi itulah tumbuh pelajaran penting bahwa ekologi tidak hanya berbicara tentang menjaga alam, melainkan juga tentang memastikan hasil bumi dapat menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi sesama. Di tengah berbagai tantangan lingkungan dan ketahanan pangan, langkah kecil dari SDN 01 Sumberdadi ini menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari kebun di belakang rumah.
Narasumber: Ibnu Rafid