Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Tiga Model Ujian Disertasi Doktor: Antara Seremoni, Diskusi Akademik, dan Blind Review

Redaksi
· Diperbarui 2 March 2026

Ujian disertasi doktoryang sering kita dengar sebagai PhD viva voce ternyata tidak seragam di berbagai negara. Masduki, dosen Universitas Islam Indonesia (UII), membagikan pengalamannya sebagai penguji eksternal dan reviewer disertasi di Indonesia dan Australia dalam beberapa tahun terakhir. Lewat akun Facebook “Masduki” yang diunggah pada Selasa, 17 Februari 2026, ia melihat ada perbedaan model, suasana, bahkan filosofi di balik pelaksanaan ujian doktoral.

Secara umum, menurut Masduki ada tiga model ujian disertasi di dunia. Pertama, model terbuka untuk publik atau public defense. Ini yang lazim kita jumpai di Indonesia dan Malaysia. Ujian berlangsung seperti seremoni akademik: ada presentasi kandidat, sesi tanya jawab, dan penetapan kelulusan dalam forum terbuka. Tidak jarang, suasana menjadi ajang “perayaan” dengan karangan bunga, undangan luas, hingga jamuan makan sebagai bentuk syukuran. Dalam praktiknya, ujian bisa berlangsung dua sampai tiga jam dan memadukan diskusi ilmiah dengan nuansa ritual akademik yang kental.

Tradisi serupa juga ditemukan di Belanda, misalnya di Leiden University. Di sana dikenal sistem Hora Finita, dengan prosesi formal, busana toga kehormatan, serta panel penguji lintas negara. Namun perbedaannya terletak pada kedalaman debat akademik dan kualitas review tertulis yang sudah dikerjakan sebelumnya. Hasil akhirnya pun beragam: cum laude hingga summa cum laude, dengan atau tanpa revisi lanjutan. Di Indonesia, menurut Masduki, ujian terbuka kerap mencampurkan pertanyaan teoretis dengan hal-hal empiris bahkan personal. Tidak jarang pula muncul pantun sebagai selingan. Dalam beberapa kasus ekstrem, ujian bergeser menjadi arena simbolik kekuasaan ketika kandidatnya adalah pejabat publik dan pengujinya menghadirkan tokoh politik.

Model kedua adalah closed door defense atau ujian tertutup. Ini umum di Inggris, Kanada, dan sejumlah kampus di Eropa. Masduki mengalaminya saat menempuh studi doktor di IfKW University of Munich, Jerman. Ujian berlangsung sederhana di ruang kelas biasa, tanpa seremoni, tanpa protokol berlebihan. Diskusi berlangsung intim antara kandidat dan tiga penguji lintas disiplin. Di model ini, kekuatan utama justru terletak pada laporan review tertulis yang panjang dan mendalam, biasanya lima hingga delapan halaman. Ujian lisan menjadi forum konfirmasi atas temuan dan kontribusi akademik, bukan lagi ajang “penghakiman”. Tradisi review tertulis yang kuat ini, menurutnya, belum menjadi kebiasaan umum di Indonesia yang masih dominan mengandalkan uji lisan spontan.

Model ketiga banyak dipraktikkan di Australia. Di sini, tidak ada forum ujian terbuka sama sekali. Evaluasi utama dilakukan melalui blind review oleh tiga reviewer independen yang ditunjuk berdasarkan kepakaran relevan dan bebas konflik kepentingan. Masduki pernah menjadi reviewer eksternal untuk disertasi di Australian National University dan Deakin University. Prosesnya berlangsung dua hingga tiga bulan melalui platform daring khusus. Hasil review tertulis menjadi dasar keputusan lulus, revisi, atau tidak lulus. Model ini menekankan objektivitas, jarak profesional, dan akuntabilitas akademik.

Perbedaan ketiga model ini tidak lepas dari budaya akademik dan sejarah masing-masing negara. Indonesia, dengan jejak kolonialisme dan pengalaman otoritarianisme, masih menyisakan pola relasi yang paternalistik antara penguji dan mahasiswa. Sementara di banyak negara Barat, relasi cenderung lebih egaliter dan berbasis peer review.

Masduki mengusulkan agar tradisi ujian doktoral di Indonesia ditinjau ulang. Beberapa kampus yang mulai beralih ke model semi-tertutup dengan fokus diskusi akademik patut diapresiasi. Ia juga menyoroti kebijakan unik Indonesia yang mewajibkan publikasi artikel sebelum ujian doktoral. Di satu sisi, ini mendorong produktivitas akademik. Namun di sisi lain, jika motivasinya lebih administratif ketimbang substantif—atau bahkan artikel dikerjakan pihak lain maka kualitas penyelenggaraan program doktor patut dipertanyakan.

Pada akhirnya, tidak ada model yang sepenuhnya sempurna. Namun esensi ujian disertasi seharusnya tetap sama: menguji kontribusi ilmiah, menjaga integritas akademik, dan memastikan bahwa gelar doktor benar-benar merepresentasikan kedalaman ilmu dan kemandirian intelektual.

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer