Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Semua Manusia Memiliki Pola Masalah Yang Sama: Orang Tua, Keluarga, dan Asmara, Review Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu

Muchamad Rudi C

Mas Jombang Santani Khairen (J.S.Khairen) sangat asing ketika saya bertemu pertama kalinya di media sosial instagram nya. Saya jarang sekali untuk mengikuti novelis atau membaca karya selain dari Bang Raditya Dika, Mas Puthut EA, Mas Agus Mulyadi dan beberapa lainnya. Saya lebih banyak mengikuti bacaan humor atau komedi. Saya memang tidak terlalu suka dengan genre serius apalagi terlalu melow. Atau yang mendayu-dayu bombay. Tapi itu memang karya sastra. Sebagai pembaca pemula memang saya belum menjadi target pasar novel yang seperti itu.

Termasuk salah satu novel yang ditulis mas J.S.Khairen. Saya kira akan ‘membombay’ dengan kisah-kisah haru mendayu. Ternyata setelah membaca beberapa caption di Instagram Mas J.S Khairen tentang mega best seller novelnya yakni Dompet Ayah Sepatu Ibu langsung merubah pandangan dan mengatakan pada diri “saya membutuhkan ini”. Hingga kata hati itu menggiring saya masuk dengan hati berbunga-bunga. Tiba-tiba ada krentek untuk betah berlama-lama di Gramedia.

Dari arah pintu masuk, novel Dompet Ayah Sepatu Ibu langsung terpampang jelas di rak paling depan. Memang tidak langsung saya membeli bukunya sebelum berputar-putar memenuhi seluruh ruangan Gramedia. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengambil dua novel sekaligus: Dompet Ayah Sepatu Ibu dan Timun Jelita Volume 2 dari bang Raditya Dika.

Beberapa hari, saya menghabiskan 26 episode ditambah prolog dan epilog dengan total pas 200 halaman kurang dari seminggu. Karena sedikit senggang dari beberapa pekerjaan. Di sela bekerja, saya menghabiskan waktu dengan telaten membaca beberapa bab dalam satu pagi dan malam hari. Jika lebih senggang lagi mungkin hanya sekali duduk saja untuk menghabiskannya. Karena saking menariknya dan kemungkinan besar akan relate dengan apa yang sedang saya alami.

Membahas Perihal Orang Tua

Ada beberapa hal yang menjadikan novel Dompet Ayah Sepatu Ibu berhak masuk dalam kategori Mega Best Seller. Setelah menyelesaikan episode demi episode, manusia termasuk saya mengalami merasa mempunyai konflik yang hampir sama dari apa yang disuguhkan dalam novel. Di awal memang sudah jelas terpampang pada cover sesuatu hal yang berhubungan dengan Orang Tua.

Kenapa tema orang tua menarik. Karena konflik yang paling dekat adalah dengan orang tua atau sebagai orang tua. Pembentukan karakter sosial manusia berawal dari keluarga dan begitu pula konflik awalnya. Walaupun tidak banyak. Jika dipersentasekan menurut Harris (1998) berkisar 30β„… orang tua punya pengaruh membentuk karakter seseorang selain genetik dan lingkungan sebaya. Termasuk orang tua akan sangat berpengaruh dari pola asuhnya dalam menyikapi konflik. Tapi tidak sepenuhnya mereka juga dapat disalahkan begitu saja. Sehingga tidak lain salah satu motivasi terbesar saya untuk membeli novel Dompet Ayah Sepatu Ibu yakni sebagai cara untuk memaafkan orang tua saya.

Saya termotivasi oleh sebuah kutipan

β€œBenar jika kau tak pernah memilih

lahir dari orangtua yang seperti apa.

Begitu juga orang tuamu,

mereka tak pernah memilih

melahirkan anak yang seperti apa.

Maka keduanya dapat tanggung jawab

dan anugerah yang sama.”

Rasanya ingin begitu saja memenangkan ego kita sebagai anak untuk memilih orang tua yang sesuai dengan standar kita. Akan tetapi itu semua tidak bisa. Begitu pula ketika melahirkan anak, mereka juga tidak bisa serta merta membuat standar mereka. Membuat standar atau aturan itu boleh, tapi sampaikan dengan cara yang lebih terbuka.

Karena pasti tidak sepenuhnya Bapak dan Emak mengajarkan hal yang seharusnya kita tahu dari dulu. Termasuk perihal cinta (dalam hal ini cinta sebagai definisi hubungan dengan banyak orang). Akan tetapi syukurnya mereka memberikan ‘kesempatan’ penuh seluas-luasnya, setinggi tingginya untuk anaknya belajar memahami bagaimana cara dunia bekerja dan dalam hal cara mencintai sesama.

Saya juga pernah mencatat secara singkat tentang perjalanan almarhumah Emak saya dalam buku Nyantri: Dimanapun, Kapanpun Tetap Santri (2025). Ternyata ketika suatu saat buku itu dibedah, saat itu pula saya merasakan bagaimana hebatnya kekuatan sebuah tulisan. Bagi pembedah mereka mengatakan merasakan kehidupan yang relate untuk mengingat ingat masa kecilnya. Bahkan salah satu narasumber dengan sangat detail menceritakan kembali apa yang saya catatkan dalam buku berhalaman 150 halaman lebih itu. InsyaAllah itu menjadi catatan kebaikan Emak yang terus mengalir.

Relatable Dengan Tema Universal

Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu tidak lengkap jika konflik yang relevan bukan tentang kisah asmara. Mau bagaimana lagi jika itu tentang orang tua, tentu mau tidak mau proses menjadi orang tua yakni dengan hubungan asmara. Perjuangan kehidupan antara tokoh utama Zeena dan Asrul sudahlah berat di masing-masing dirinya.

Ditambah bagaimana mereka sebelum bertemu dan sesudah bersatu. Sangat kompleks sekali. Bahwa kemiskinan menjadi penghalang dari pendidikan. Dan melanggengkan pernikahan sebagai cara keluar dari kemiskinan. Termasuk konflik yang terjadi di saat sudah serius ingin menuju jenjang pernikahan. Ada saja permasalahan. Persoalan biaya menikah. Pertimbangan adat istiadat daerah. Restu dari orang tua. Adanya orang ketiga yang masuk. Membuat konflik semakin pelik.

Zeena untuk pertama kali dilamar seseorang ketika gundah membuat keputusan akankah menikah atau melanjutkan untuk kuliah. Tidak ada pilihan lain untuk menikah karena biaya kuliah yang saat itu cukup menguras kantong. Sedangkan kondisi perekonomian cukup berat untuk sesuap nasi saja. Menikah cenderung dipilih untuk melanjutkan kehidupan. Akan tetapi permasalahan pertama pernikahan batal karena ketidakjelasan dari calon suami. Tekad bulat dan kokoh akhirnya dipilih Zeena untuk menuju jenjang perkuliahan.

Begitu pula Asrul yang memperjuangkan hidupnya dengan bekerja keras merantau sejauh mungkin sejak kecil guna menyambung kehidupan dirinya dan orang tuanya. Menjadi tukang kliping koran dan akhirnya diangkat sebagai wartawan sampai menjadi wartawan terbaik se-Indonesia sesuatu hal yang tidak singkat dan mudah.

Tidak hanya menghadirkan konflik antara perjuangan menempuh di dunia pendidikan dan pra nikah, namun keadaan pasca nikah sebagai puncak dari konflik yang dihidangkan dengan epic oleh mas JS Khairen.

Jika dilihat memang banyak hal yang dapat memengaruhi sebuah tulisan agar orang tertarik untuk membacanya. Salah satu faktor nya tema yang disajikan berangkat dari permasalahan kehidupan yang banyak dirasakan orang. Kita bisa menggunakan istilah common humanity. Dr. Kristin Neff (2011) menerangkan konsep common humanity sebagai bagian dari self compassion yakni kemampuan untuk memahami, menerima dan menyayangi diri sendiri terutama saat menghadapi kegagalan, kesulitan atau kekurangan.

Konsep self-compassion yang dipopulerkan Kristin Neff salah satunya terdiri dari common humanity (kemanusiaan bersama). Common Humanity digunakan sebagai mekanisme menyadari bahwa kesulitan adalah sesuatu hal yang manusiawi dan dialami semua orang. Dengan menyadari penderitaan atau kesulitan orang lain, maka seseorang tersebut tidak merasa sendiri atas apa yang dirasakannya.

Begitu yang saya rasakan ketika sudah membaca dari bab per bab yang disajikan dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu. Betapa merasakan konflik yang terjadi pada tokoh utama yakni tentang keluarga dan hubungan. Pola yang sama memberikan kesan bahwa ternyata semua orang mengalami pola konflik yang mirip secara umum. Apalagi dengan usia-usia yang hampir sama.

Jadi sebenarnya dengan melihat pola permasalahan hidup dari sesama manusia, kita dapat lebih bisa menumbuhkan simpati dan empati pada orang lain. Bagaimana harus melihat latar belakang seseorang tersebut, bagaimana dia memprosesnya dan bagaimana kita merespon pada diri sendiri sehingga menjadi sebuah paradigma jalan hidup baru (way of life). Karena kita tidak harus dan terus membenarkan apa yang kita pikirkan.

Terakhir yang menarik dalam novel Dompet Ayah Sepatu Ibu, Mas JS.Khairen membangun pendekatan dengan perspektif keislaman. Bagaimana menjadi orang tua memberikan pandangan kepada anak-anaknya tentang peliknya kehidupan harus tetap dibarengi dengan penghambaan kepada Dzat Yang Maha Segalanya. Sehingga sangat cocok untuk kita mengonsumsi novel Dompet Ayah Sepatu Ibu untuk memberikan sudut pandang lain yang lebih baik perihal orang tua, keluarga dan hubungan dengan pasangan. Tentunya seperti yang saya sampaikan di atas membaca novel Dompet Ayah Sepatu Ibu adalah sebagai cara bagaimana memaafkan mereka sebagai orang tua.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer