Saya teringat dengan istilah Coopetition ketika kemarin mengisi Seminar Nasional bertajuk tentang sinergi komunikasi untuk dakwah yang adaptif dan inspiratif. Coopetition sendiri saya mendengarnya dalam konteks bisnis. Salah satunya persaingan bisnis antara media massa (penerbit) dan media sosial (platform). Pada dasarnya coopetition merujuk pada istilah yang dipopulerkan oleh Nikos Smyrnaios (2012) yang berarti Cooperation and Competition at the same time. Artinya antara pihak perusahaan mempunyai hajat untuk bekerja sama yang saling menguntungkan. Di sisi lain mereka juga harus bersaing untuk mendapatkan keuntungan dari pelanggan. Konsep tersebut relevan untuk membaca relasi persaingan media saat ini.
Penerbit dan Platform: Siapa Menghasilkan, Siapa Mendapatkan?
Misalnya saja jika diterapkan dalam bisnis informasi. Informasi sebagai komoditas utama perputaran ekonomi penerbit. Dalam tulisan Agus Sudibyo (2022) sebagai bagian dari sebuah buku berjudul Dialektika Digital dijelaskan bisnis informasi sudah mengalami persaingan yang cukup signifikan untuk memperoleh konsumen. Perilaku konsumen cenderung lebih memperlihatkan preferensi akses informasi melalui platform. Kemudian “oknum” kreator membuat kontennya berdasarkan data yang diperoleh dari penerbit. Sedangkan dalam mendapatkan data, penerbit harus bekerja lebih keras terjun ke lapangan bahkan dengan biaya yang cukup mahal. Akan tetapi kadang kala beberapa pengguna platform mengambil informasi dan mempublikasikan dengan “mudahnya”. Tidak perlu terjun langsung ke lapangan, memverifikasi kebenaran informasi, atau berlangganan server website yang begitu mahal setiap bulannya.
Meskipun dalam satu sisi dirugikan, di sisi lain penerbit juga membutuhkan mutualisme untuk menyebarkan informasi dan menjangkau audiens lebih luas. Keberhasilan jangkauan audiens tentu mempengaruhi potensi seberapa banyak pembaca yang datang pada website penerbit. Walaupun terkadang nyatanya perilaku konsumen tidak demikian. Beberapa dari mereka cenderung berhenti di platform untuk mendapatkan informasi tanpa mengunjungi sumber asli. Karena itu, dalam banyak kasus, keuntungan atensi lebih besar dinikmati platform. Begitulah dinamika perebutan dan kerjasama yang menurut Agus Sudibyo (2022) akan banyak dimenangkan oleh Platform.
Kemenangan platform tidak lain karena fitur-fitur yang ditawarkan telah banyak memanjakan pengguna (user). Fitur algoritma personalisasi artinya platform memberikan rekomendasi sesuai kebutuhan personal, fitur interaksi cepat, tampilan menarik, elemen gratifikasi seperti hadiah, infinite scroll yang membebaskan pengguna tanpa batasan menggulirkan kontennya, dan fitur pencarian yang semakin canggih. Fitur-fitur ini membuat pengguna semakin betah lebih lama dalam ekosistem platform.
Mesin Pencari: Arena Penting yang Sering Dilupakan
Salah satu yang arena penting namun kadang luput adalah fitur pencarian antara media sosial dan website. Sebagai penerbit tentu akan sangat bergantung pada mesin pencarian terbesar yakni Google untuk memunculkan kontennya (crawling) di halaman depan. Dengan beberapa kata kunci, pengguna dapat menemukan artikel secara cepat dan spesifik. Sedangkan pencarian di media sosial sering kali bergantung pada tren, akun, atau popularitas konte, sehingga hasilnya tidak selalu presisi. Terkadang ketika mencari sebuah konten media sosial kita kehilangan jejaknya. Tidak ada kata kunci spesifik untuk mencari sebuah konten.
Peka terhadap permasalahan tersebut, beberapa media sosial turut memperkuat performanya pada masalah pencarian. Misalnya saja TikTok yang memperkuat fitur rekomendasi kata kunci pencarian dan penemuan topik populer dengan mudah. Karenanya penggunaan mesin pencarian google sebagai gerbang utama masih menjadi sangat penting bagi website atau media sosial. Sehingga penting memahami salah satu karakteristik hubungan antara keduanya dengan mesin pencarian. Hal ini menunjukan bahwa pertarungan digital sekarang bukan menyoal tentang produksi konten, tetapi juga bagaimana konten tersebut ditemukan.
Teks Tidak Mati: Fondasi Visibilitas Digital
Di tengah dominasi era konten audio-visual, teks justru tidak akan pernah mati. Memang tidak bisa menjamin bahwa keterlihatan (visibilitas) ketika dipublikasikan melalui website akan lebih mudah ditemukan. Begitu pula sebaliknya, belum tentu kreator lebih mudah menembus audien dengan jenis konten audio visualnya di media sosial. Sehingga memahami cara bekerja antar keduanya penting untuk memaksimalkan potensi peran media pada masa sekarang.
Dari semua fitur yang ditawarkan, website dan media sosial kita dapat mengambil satu persamaan yang tetap dibutuhkan oleh kreator, yakni basis teks. Karena algortima dan logika mesin pencarian masih mengacu pada teks sebagai kata kunci. Meskipun konten audio visual tetap membutuhkan data teks agar dapat dikenali, dikategorikan dan ditemukan. Misalnya saja penggunaan teks sebagai metadata, taggar (#), caption, deskripsi, maupun kolom komentar.
Maka salah satu pemanfaatan teks di media saat ini sangat penting. Salah satunya untuk membangun legitimasi dan eksistensinya melalui media. Misalnya saja sebagai penerbit, konten kreator, mahasiswa yang perlu menampilkan portofolio karya, akademisi yang menguatkan legitimasi kepakaran, atau siapapun yang sedang membangun reputasinya di hadapan publik.
Di era digital bukan lagi persoalan siapa yang mampu memproduksi konten, tetapi tentang bagaimana cara memahami logika distribusi. Penerbit dan platform akan terus bersaing sekaligus membutuhkan. Dan teks tetap menjadi fondasi eksistensi di ruang digital. Ke depan tantangan akan semakin kompleks misalnya penggunaan AI search, kreator ekonomi, perubahan algoritma, SEO dan hak penerbit (publisher right).
Dipublikasikan juga pada TimeIndonesia.co.id