Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Mama Gufron dan Kontestasi Wacana Keislaman di Media Sosial

Muchamad Rudi C

“jika bukan kita siapa lagi, ya mama gufron”. Sebagai sebuah bentuk satire dalam konteks Aktivisme Digital Islam (Islamic digital activism). Sebuah gerakan membangun wacana keislaman melalui media digital yang saat ini eksis di isi oleh mama gufron. Sebenarnya tidak penting untuk ngoyo bersaing dengan bahasa syududu beliau. Karena Muslim Indonesia masih dalam koridor kesadarannya. Akan tetapi tidak tahu kedepan jika bahasa syududu sudah masuk ke dalam viralitas menjangkiti yang katanya generasi emas.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas sosok Mama Gufron semata. Fenomena tersebut hanya salah satu contoh bagaimana wacana keislaman diproduksi, diviralkan, dan kemudian diamplifikasi oleh media massa. Dalam ekosistem media digital sekarang, televisi tidak lagi selalu menjadi sumber utama informasi, melainkan sering berperan sebagai penguat (amplifier) terhadap isu-isu yang terlebih dahulu berkembang di media sosial. 

Sebuah wacana keagamaan Islam memang masih berpotensi seksi untuk diperbincangkan di dunia maya. Seolah tidak ada habisnya. Karena beberapa media arus utama membidik angel isu keagamaan, khususnya agama Islam. Selain itu memang faktanya ada saja tingkah dari seseorang yang dianggap sebagai “pemuka agama Islam” oleh pengikutnya. 

Fenomena Mama Gufron bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang digital Indonesia terus dipenuhi berbagai wacana keislaman yang viral, mulai dari Al-Zaytun, tayangan Xpose Uncensored Trans7, tokoh Walid dalam Film Bidaah, hingga fenomena Mama Gufron. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bagaimana isu keagamaan terus diproduksi, diperdebatkan, dan disebarluaskan melalui berbagai platform media. Seolah menjadi rangkaian kasus yang menunjukan pola yang sama.

Meminjam analisis wacana Norman Fairclough dalam Eriyanto (2011) ada beberapa aspek untuk membedah wacana yang berkembang di media. Yakni aspek mikro yang dimulai pada teks atau pada saat ini kita juga menyebut sebagai konten. Konten media sosial juga awalnya diproduksi berawal dari teks yang divisualisasikan. Kemudian tahap aspek meso, meruntut bagaimana proses produksi teks atau konten tersebut diproduksi kemudian disebarkan. Pada tingkat makro, kita akan melihat bagaimana kondisi sosial budaya membentuk pandangan hidup publik.

Saya beberapa kali mendiskusikan salah satunya yang paling santer dibincangkan beberapa waktu lalu hingga menimbulkan kegaduhan di kalangan Pondok Pesantren, yakni Konten Xpose Uncensored yang tayang di TV nasional Trans7. Secara konten dari narasi yang dibangun pada tayangan tersebut adalah sebagai bentuk kritik kepada pondok pesantren yang sebelumnya memang sering diperbincangkan sebagai “sarang” pelecehan seksual. Tidak hanya itu mereka menambahkan narasi-narasi seperti feodalisme atau perbudakan di Pondok Pesantren. Salahnya lagi mereka mengambil visual yang sama sekali tidak tepat dengan narasinya. Jelas narasi yang mereka bangun semakin menyudutkan pondok pesantren. Akhirnya berujung pada gejolak gerakan boikot tayangan dari kaum pesantren. 

Sekarang kita bahas bagaimana teks atau narasi atau konten tersebut diproduksi. Tanggung jawab utama tetap berada pada institusi media beserta seluruh unsur produksi yang terlibat di dalamnya: produser, penulis skrip, editor, bahkan narrator. Namun sebagai wajah media besar Bapak Chairul Tanjung yang harus langsung turun tangan menyelesaikan gejolak tersebut. Jika ditelusuri orang-orang dibalik produksi memang bukan langsung dari kru stasiun. Melainkan atas kerja sama dengan sebuah production house. Walaupun demikian, produser acara Trans 7 akan sangat bertanggung jawab dan tetap sebagai penyaring sebelum tayang. 

Lalu apakah tidak ada dari kalangan pondok pesantren yang berada di balik proses produksi tersebut? Kemungkinan besar bukan dari seorang santri. Tidak terdapat informasi yang menunjukkan keterlibatan kalangan pesantren dalam proses produksi tersebut. Jika seorang santri dari pondok pesantren tentu akan melihat (screening) sekali lagi untuk memastikan apakah menimbulkan efek dari konten yang akhirnya menjadi isu besar dari kalangan pesantren. 

Pada proses produksi memang pasti banyak yang harus dibahas lebih dalam. Akan tetapi seharusnya proses penggalian data memang harus terjun ke lapangan untuk memastikan validitas data. Dengan keterbatasan data yang tersedia, saya hanya mencoba membaca proses produksi wacana yang dibangun dan disebarkan. 

Pertanyaan selanjutnya bagaimana bisa televisi sebesar Trans 7 memproduksi hal tersebut. Kita coba gali kebelakang lebih dalam. Televisi hari ini menjadi media amplifier konten media sosial. Kita lihat beberapa program televisi banyak memuat konten-konten yang berasal dari media sosial. Ditambah narasi sedikit, dipoles dengan clickbait, dan sensasi-sensai infotaiment. Jadilah sebuah konten yang dinikmati pengguna televisi. Dengan begitu, televisi sekali lagi tetap mendapatkan atensi publik yang mempunyai perilaku konsumsi media berharap mendapatkan kepuasan (gratification) secara cepat pula.

Media sosial per hari ini memang dengan mudah untuk berubah wacananya dalam hitungan hari. Pada tahun 2025-2026 banyak muncul sosok kontroversial yang membawa agama sebagai kedoknya sehingga menjadi perbincangan bahkan sampai sekarang. Misalnya saja dimulai pada viralitas Film Bid’ah (2023) dengan tokoh utama Walid. Walid yang seorang pemuka agama yang mempraktikan feodalisme hingga pelecehan seksual di dalam Pondok Pesantren. Ada lagi Gus Syamsudin dengan padepokannya  pengobatannya, seorang Gus dengan pedagang es teh, kekerasan seksual di Kabupaten Pati, dan seorang tokoh bernama Iyus Sugirman atau dikenal sebagai Mama Gufron yang sekarang masih eksis diperbincangkan bahkan bisa dikatakan sebagai budaya “Meme-ifikasi” agama. 

Dari wacana yang beredar media massa konvensional khususnya televisi mengakomodir konten dan mengamplifikasi lebih luas dengan otoritatif informasi bahwa kondisi pondok pesantren sedang ‘tidak baik-baik’ saja. Menjadi sebuah isu seksi yang banyak dikonsumsi publik. Tentu dengan tujuan menarik rating lebih tinggi. 

Secara sosiokultural memang setiap tempat dan konteks yang berbeda. Sedangkan di Indonesia sendiri agama mayoritas sebagai seorang muslim. Tentu akan menjadi lebih mudah untuk menerima atau menolak konten berbau-bau keagamaan Islam. Maka dari itu sangat penting untuk memperhatikan serta tetap mawas diri dengan isu yang sedang berkembang di media sosial. Syukur-syukur dapat merubah pola konsumsi konten, produksi dan penyebarannya. 

Walaupun tidak akan mudah untuk diterima publik. Jika tidak bisa merubah dari permukaan, maka dapat merubah dari akar dasarnya. Setidaknya mencoba untuk membangun wacana keagamaan Islam dimulai dengan media sosial sebagai akar arus utama wacana hari ini. Agar ruang digital tidak sepenuhnya didominasi oleh kelompok-kelompok yang menawarkan interpretasi keagamaan yang berbeda dari arus utama masyarakat Muslim Indonesia. . Atau malah biarkan saja pandangan mayoritas berubah menjadi semua akan syududu pada waktunya. Semoga tidak.

Muchamad Rudi C
Ditulis oleh

Muchamad Rudi C

Islamic digital activist. Mugi Barokah Manfaat

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer