Kita hidup di zaman yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Hari ini, anak muda, terutama Generasi Z, tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat cepat. Mereka akrab dengan media sosial, marketplace, platform video, dan berbagai peluang ekonomi baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Jika dulu mahasiswa identik dengan tas penuh buku tebal, kini mahasiswa juga identik dengan link bio, open PO, live selling, hingga membangun merek usahanya sendiri. Ini adalah realitas baru yang tidak bisa dihindari.
Fenomena tersebut menunjukkan satu hal penting: anak muda kini memiliki ambisi yang besar. Mereka ingin berprestasi, ingin mandiri secara finansial, ingin berkembang lebih cepat, dan ingin menciptakan peluang sejak usia muda. Ambisi bukan sesuatu yang salah. Bahkan dalam banyak hal, ambisi adalah energi yang mendorong seseorang untuk bergerak, berusaha, dan tidak menyerah pada keadaan.
Namun pertanyaannya: bagaimana agar ambisi mencari cuan, membangun bisnis, atau mengejar prestasi itu tidak membuat mahasiswa menyepelekan kuliah dan proses menuntut ilmu? Inilah tantangan utama generasi sekarang. Sebab produktif saja tidak cukup. Sibuk saja tidak cukup. Sukses finansial saja juga tidak cukup. Semua itu harus ditopang dengan arah hidup yang benar.
Hal pertama yang harus dipahami yakni posisi mahasiswa itu sendiri. Menuntut ilmu bukan sekadar pilihan, bukan kegiatan sambilan, dan bukan sesuatu yang bisa ditunda sesuka hati. Menuntut ilmu adalah kewajiban. Ia merupakan tanggung jawab intelektual, moral, bahkan spiritual. Seorang mahasiswa harus paham mana yang utama, mana yang tambahan, mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang bernilai jangka pendek, dan mana yang menjadi bekal seumur hidup.
Bagi mahasiswa yang masih menjadi tanggungan orang tua, misalnya, mencari nafkah bukan kewajiban utamanya. Itu bisa menjadi bentuk ikhtiar yang baik, bentuk bakti, dan bentuk latihan kemandirian. Tetapi yang tetap menjadi prioritas adalah belajar. Jangan sampai semangat berjualan justru membuat tugas terbengkalai, kehadiran kuliah menurun, dan proses akademik diabaikan. Karena ilmu adalah fondasi yang akan menentukan kualitas hidup jangka panjang.
Di sinilah pentingnya positioning. Mahasiswa boleh menjadi pebisnis, boleh menjadi kreator konten, boleh menjadi investor kecil-kecilan, tetapi identitas utamanya tetap sebagai pembelajar. Bisnis bisa tumbuh bersama kuliah, tetapi kuliah tidak boleh dikorbankan demi bisnis. Keduanya harus berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.
Saya justru melihat mahasiswa yang mampu kuliah sambil berbisnis sebagai sosok yang luar biasa. Mereka membagi waktu untuk hadir di kelas, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian, sekaligus memikirkan strategi penjualan, stok barang, pemasaran, pelayanan pelanggan, bahkan membuat konten promosi. Mereka belajar banyak hal sekaligus: disiplin, tanggung jawab, komunikasi, kepemimpinan, dan ketahanan mental. Bukan hal kecil. Ini adalah bentuk kedewasaan yang patut diapresiasi.
Tetapi dalam dunia bisnis, ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu adab. Kompetisi boleh tinggi, target boleh besar, keuntungan boleh dicari, tetapi semuanya harus dibingkai dengan kejujuran dan etika. Ilmu tanpa adab akan melahirkan kecerdasan yang merusak. Bisnis tanpa etika hanya menghasilkan uang, tetapi kehilangan keberkahan dan nilai kemanusiaan.
Kiblat terbaik bagi seorang pebisnis Muslim tentu adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah pedagang yang sukses, terpercaya, dan dihormati jauh sebelum diangkat menjadi Rasul. Gelar Al-Amin disematkan kepada beliau karena kejujuran dan integritasnya. Sosok Rasulullah memberikan pelajaran penting bagi mahasiswa yang ingin berbisnis: reputasi lebih mahal daripada keuntungan sesaat.
Ada empat sifat Nabi yang sangat relevan untuk dijadikan kompas bisnis masa kini. Pertama, shiddiq atau jujur. Jangan menipu kualitas barang, jangan memanipulasi testimoni, jangan melebih-lebihkan produk secara palsu. Kedua, amanah atau dapat dipercaya. Tepati janji, kirim pesanan tepat waktu, jaga komitmen kepada pelanggan. Ketiga, tabligh atau mampu menyampaikan. Artinya, seorang penjual tidak hanya menawarkan barang, tetapi juga mampu menyampaikan nilai, manfaat, dan cerita di balik produknya. Keempat, fathanah atau cerdas. Pebisnis harus berpikir strategis, kreatif, dan mampu membaca peluang.
Karena itu, mahasiswa yang berbisnis sebenarnya sedang mendapat laboratorium kehidupan. Mahasiswa komunikasi belajar negosiasi dan pemasaran. Mahasiswa manajemen belajar strategi usaha dan keuangan. Mahasiswa pendidikan belajar menyampaikan nilai. Mahasiswa syariah belajar etika muamalah. Semua ilmu di kampus dapat terhubung dengan dunia usaha jika dijalankan dengan benar.
Lalu bagaimana dengan ambisi? Sekali lagi, ambisi bukan musuh yang harus dipadamkan. Ambisi justru perlu diarahkan. Dalam literatur klasik seperti Ta’lim al-Muta’allim, salah satu syarat keberhasilan menuntut ilmu adalah kecerdasan dan semangat yang tinggi. Artinya, seseorang harus punya keinginan besar untuk maju. Orang tanpa cita-cita akan mudah hanyut. Orang tanpa target akan hidup sekadar mengalir tanpa arah.
Namun ambisi harus dikendalikan oleh etika. Ambisi yang tidak dibimbing adab bisa berubah menjadi keserakahan. Target yang tidak dibingkai nilai bisa berubah menjadi tekanan batin. Karena itu, jangan hanya bertanya “berapa untungnya?”, tetapi tanyakan juga “apa manfaatnya?”, “apakah halal caranya?”, “siapa yang terbantu?”, dan “apa nilai yang saya bawa?”.
Hal lain yang sangat penting adalah niat. Banyak aktivitas duniawi yang bernilai ibadah ketika diniatkan dengan benar. Berjualan untuk membantu orang tua, berbisnis untuk membayar UKT, bekerja demi membiayai pendidikan, membangun usaha agar kelak bisa membuka lapangan pekerjaan, semuanya bisa menjadi jalan kebaikan. Dalam Islam, amal sangat ditentukan oleh niat. Aktivitas yang sama bisa bernilai biasa saja, atau justru bernilai ibadah, tergantung tujuan di dalam hati.
Karena itu, sebelum memulai usaha, luruskan dulu niatnya. Bangun bisnis bukan sekadar agar terlihat keren, ikut tren, atau takut ketinggalan. Bangun bisnis karena ada tujuan hidup yang jelas. Karena ada tanggung jawab yang ingin ditunaikan. Karena ada mimpi besar yang ingin diwujudkan. Karena ada manfaat yang ingin diberikan.
Saya juga percaya bahwa bisnis yang kuat selalu memiliki cerita. Jangan hanya menjual barang, tetapi bangun makna di balik barang itu. Mengapa memilih produk tersebut? Mengapa usaha itu didirikan? Masalah apa yang ingin diselesaikan? Nilai apa yang ingin diperjuangkan? Cerita inilah yang membuat usaha memiliki jiwa. Produk boleh sama, tetapi makna di baliknya bisa berbeda.
Mahasiswa yang menjual makanan, misalnya, bisa membawa misi membantu teman-teman mendapatkan makanan terjangkau. Yang menjual busana bisa membawa semangat menutup aurat dengan elegan. Yang menjual buku bisa menumbuhkan budaya literasi. Yang menjual jasa desain bisa membantu UMKM berkembang. Ketika bisnis memiliki nilai sosial, maka ia tidak hanya menguntungkan pemiliknya, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.
Selain niat dan nilai, kunci berikutnya adalah manajemen waktu. Semua orang diberi waktu yang sama: 24 jam sehari. Bedanya terletak pada bagaimana kita mengelolanya. Jadwalkan kuliah dengan disiplin, sisihkan waktu belajar yang serius, atur jam operasional usaha, tentukan prioritas harian, dan beri ruang untuk istirahat. Produktif bukan berarti sibuk tanpa arah, tetapi mampu menempatkan energi pada hal yang tepat.
Demikian, menjadi mahasiswa di era digital memang menantang. Tetapi justru di situlah peluang besarnya. Kita bisa belajar sekaligus berkarya. Kita bisa kuliah sekaligus berbisnis. Kita bisa produktif tanpa kehilangan nilai. Kita bisa ambisius tanpa meninggalkan adab.
Sehingga generasi yang memahami berbagai peluang dan tantangan, serta tetap mengedepankan agama Insyaallah akan menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara mental, jujur dalam usaha, santun dalam bersaing, dan bermanfaat bagi sesama. Sebab kesuksesan sejati bukan hanya ketika bisnis berkembang, tetapi ketika ilmu bertambah, karakter terjaga, dan hidup memberi manfaat bagi orang lain.
Oleh : Clara Sinta Pratiwi,M.Sos – Dosen Prodi KPI UIN SATU Tulungagung