Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Seminar Nasional KPI UIN SATU Tulungagung: Dakwah Adaptif dan Sinergi Antar Prodi KPI Jawa Timur

Redaksi
· Diperbarui 24 April 2026

Tulungagung — Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Kamis, 23 April 2026 menyelenggarakan Seminar Nasional bertemakan “Together We Broadcast: Sinergi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam untuk Dakwah yang Adaptif dan Inspiratif.” Seminar berlangsung di Gedung Aula Prajnaparamita mulai pukul 10.00 WIB. dipandu oleh moderator Clara Sinta Pratiwi, M.Sos serta mendatangkan narasumber kompeten pada bidang komunikasi dan dakwah.

Sayidah Afyatul Masruroh, M.Pd.I., M.Sos. dari Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang membuka pembahasan bahwa dakwah pada masa kini harus mampu menyesuaikan diri dengan karakter generasi sekarang, menggunakan pendekatan yang kreatif, komunikatif, serta memanfaatkan media digital agar pesan Islam dapat diterima secara luas dan menyentuh kebutuhan masyarakat modern.

“Dakwah adaptif dan inspiratif harus bisa dilakukan oleh generasi sekarang dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka, bahasa yang mudah dipahami, serta memanfaatkan media yang mereka gunakan setiap hari,” ujarnya.

Generasi muda, masih menurutnya, menggunakan bahasa yang ramah, visual yang menarik dan membahas hal yang kekinian. Mudah sekali generasi muda menjangkau konten-konten viral. Mereka bisa belajar sendiri, akan tetapi tugas dosen tetap mendampingi.

“Ketika dakwah dikemas dengan bahasa yang ramah, visual yang menarik, dan pesan yang solutif, maka generasi muda tidak akan merasa digurui, tetapi justru merasa dirangkul dan diajak bertumbuh bersama nilai-nilai Islam.”

Sementara itu, Muchamad Rudi Cahyono, S.Sos., M.I.Kom. dari Universitas Islam Tribakti Lirboyo menekankan pentingnya pemahaman terhadap karakteristik setiap platform media. Ia menjelaskan bahwa setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, sehingga strategi dakwah harus disesuaikan dengan audiens dan format platform yang digunakan. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya insan dakwah untuk bersikap adaptif terhadap perkembangan Artificial Intelligence (AI) sebagai peluang baru dalam dunia komunikasi.

“Setiap platform memiliki karakteristik, kelebihan, dan kelemahannya masing-masing. Karena itu, strategi komunikasi harus disesuaikan. Di sisi lain, kita juga harus adaptif terhadap perkembangan AI sebagai bagian dari masa depan dakwah digital,” tegasnya.

Menurut Dosen yang juga mengajar mata kuliah Teknologi Informasi ini, perkembangan teknologi tidak harus dihindari. Termasuk penggunaan kecerdasan buatan (Ai), tapi perlu ditekankan harus ada etika penggunaannya.

“Kita tidak bisa menghindari perkembangan teknologi. Artificial Intelligence adalah realitas baru yang harus dipahami dan dimanfaatkan secara bijak. Sekali lagi, AI adalah tools atau alat yang digunakan untuk memproduksi karya”ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Luthfi Ulfa Ni’amah, M.Kom.I, Koordinator Program Studi KPI UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sekaligus Ketua DPD Jawa Timur ASKOPIS, membahas pentingnya sinergi antar Program Studi KPI se-Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa kerja sama antar kampus menjadi langkah strategis dalam memperkuat mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang komunikasi Islam. Menurutnya, dakwah tidak hanya sebatas menyampaikan pesan, tetapi juga mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran melalui pendekatan yang ilmiah, kolaboratif, dan berdampak luas.

“Sinergi antar Prodi KPI Jawa Timur sangat penting untuk memperkuat peran akademik dan sosial kita. Dakwah harus hadir untuk mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran melalui kolaborasi yang nyata dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Dr. Luthfi sebagai tuan rumah Seminar Nasional, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang membantu terlaksananya kegiatan. Termasuk para peserta yang berkenan hadir dari mahasiswa KPI UIN SATU dan UNHASY.

“Jangan bosan-bosan untuk berkunjung ke UIN SATU Tulungagung nggeh. Semoga pertemuan kita ini mendapatkan keberkahan serta manfaat” ungkapnya.

Kegiatan seminar ditutup dengan diskusi yang interaktif dan dinamis. Sehingga terlihat peserta seminar tidak beranjak dan mengikutinya hingga selesai.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer