Ada momen ketika seorang laki-laki ingin menangis, tetapi mencoba menahannya. Bukan karena tidak merasakan apa-apa, melainkan karena ada sesuatu yang membuatnya terbiasa untuk tidak melepasnya. Seolah ada batas yang tidak terlihat, yang mengatakan bahwa air mata bukan tempatnya.
Saya pernah berada di titik itu, ketika Hayyan, Rayyan, dan Dzayyan datang untuk pergi. Pada saat itu pikiran terasa penuh, dan kata-kata tidak cukup untuk menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Ada dorongan untuk melepas, tetapi juga ada kebiasaan untuk menahan.
Belakangan saya menyadari, rasa menahan itu tidak datang begitu saja. Ia dibentuk dan tumbuh dari cara lingkungan memandang laki-laki bagaimana ia seharusnya bersikap, terlihat, dan mengelola perasaannya. Di situlah budaya bekerja, pelan tapi pasti, membentuk batas tentang apa yang dianggap pantas dan tidak.
Namun dalam hidup yang saya jalani, relasi tidak pernah benar-benar bergerak dalam satu arah. Saya ingin bisa menopang batin istri dan keluarga saya hadir, menjaga, dan menjadi tempat bersandar ketika keadaan tidak baik-baik saja. Bukan karena harus lebih kuat, tetapi karena dalam hubungan, ada saat ketika seseorang memang perlu berdiri lebih tegak untuk yang lain.
Tetapi kehidupan tidak selalu menempatkan saya di posisi itu. Ada momen ketika saya justru tidak sedang kuat. Ketika yang selama ini saya tahan, perlahan ingin keluar.
Pada saat itulah saya mulai memahami sesuatu yang lebih jujur bahwa menangis bukanlah sesuatu yang perlu dijauhkan. Ia bukan milik perempuan, dan bukan pula sesuatu yang membuat laki-laki kehilangan dirinya. Menangis adalah bagian dari menjadi manusia cara paling jujur ketika apa yang dirasakan tidak lagi bisa ditahan atau dirapikan dengan kata-kata.
Dalam momen seperti itu, saya tidak kehilangan peran saya. Justru saya melihat relasi dalam bentuk yang lebih utuh. Saya yang ingin menopang, pada suatu saat justru ditopang. Batin saya yang berusaha tetap tegak, perlahan dikuatkan oleh istri saya. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah yang ada hanya ketersalingan agar tidak ada yang benar-benar jatuh sendirian.
Dari situ saya semakin memahami bahwa kekuatan dalam hubungan tidak pernah berdiri sendiri. Ia bergerak—berganti, saling mengisi, dan hadir dalam bentuk yang tidak selalu sama. Ada saat untuk berdiri, dan ada saat untuk bersandar. Dan keduanya bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari menjadi manusia.
Mungkin, dalam memperingati Hari Kartini, kita tidak hanya perlu berbicara tentang pembebasan perempuan, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami kembali batas-batas yang selama ini kita terima begitu saja—termasuk batas yang membuat laki-laki menahan tangisnya.
Sebab pada akhirnya, menjadi manusia bukan tentang seberapa lama kita mampu menahan, tetapi seberapa jujur kita berani merasakan.