Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Surabaya Menyapa dengan Cara yang Tak Terduga

Istiqomatin Nisa'
· Diperbarui 13 July 2026

Ini adalah malam keduaku di Surabaya. Kota ini riuh berderu dan mulanya terasa asing. Sebagai mahasiswa IAINU Tuban sekaligus santri di PP. Manbail Futuh yang gemar berkelana dan menikmati perjalanan ke berbagai tempat, setiap kota selalu memberiku pengalaman baru. Namun, Surabaya datang dengan cerita yang berbeda. Sebelum menginjakkan kaki di kota metropolitan ini kepalaku dipenuhi berbagai stigma tentang mahalnya biaya hidup. Di tengah situasi ekonomi yang sering diberitakan semakin sulit aku membayangkan bahwa hampir semua kebutuhan di kota besar harus ditebus dengan harga yang tinggi.

Pagi itu bersama seorang teman kami memulai hari dengan mencari sarapan di sekitar penginapan. Kami berjalan menyusuri jalanan Surabaya yang mulai ramai aktivitas masyarakat. Kendaraan berlalu-lalang tanpa henti, para pedagang mulai membuka lapaknya, dan aroma berbagai masakan menyeruak dari warung-warung pinggir jalan. Di tengah suasana kota yang sibuk ini, Surabaya memilih untuk menyapa kami dengan cara yang sama sekali tak kami duga.

Rasa cemas tentang biaya hidup mendadak luntur di depan sebuah warung sederhana di pinggir jalan. Aku dan temanku sempat saling berpandangan dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana tidak? Kami membeli dua bungkus nasi dengan lauk yang berbeda. Bungkus pertama berisi nasi dengan lauk cumi, tempe orek, sambal korek, dan serundeng. Bungkus kedua berisi nasi dengan lauk tongkol balado, tempe orek, perkedel, sambal korek, dan serundeng. Ketika kami tanya harganya, penjual dengan santai menjawab “Dua puluh ribu, Mbak.”

Kami sempat memastikan kembali karena merasa tidak yakin dengan harga itu. Dalam bayanganku, makanan dengan lauk selengkap itu di Surabaya tentu akan menguras dompet. Namun ternyata tidak, Dua bungkus nasi itu benar-benar hanya seharga dua puluh ribu rupiah.

Kejutan kecil itu rupanya belum selesai. Setelah sarapan, tenggorokan kami terasa kering. Kami pun membeli sebotol air mineral dingin di sebuah toko tak jauh dari warung tadi. Di berbagai tempat umum maupun kawasan wisata religi yang pernah kami kunjungi harga air mineral sering kali mencapai lima ribu rupiah per botol. Tapi ternyata tidak, pagi itu kami hanya membayar tiga ribu rupiah.

Pengalaman sederhana tersebut membuat kami berdua tertegun lalu saling tertawa kecil. Bukan karena nominal uang yang berhasil dihemat melainkan karena sebuah prasangka dalam benak kami perlahan runtuh. Ternyata tidak semua kota besar identik dengan harga yang mencekik. Di balik gedung-gedung tinggi dan kepulan asap kendaraan kota yang seolah tak pernah tidur, Surabaya masih menyisakan ruang-ruang yang begitu humanis.

Perjalanan memang sering kali mengajarkan bahwa tidak semua hal dapat diukur dari cerita orang lain atau stigma yang lebih dahulu beredar. Ada pengalaman yang hanya bisa dipahami ketika kita mengalaminya sendiri. Hari ini, bagiku Surabaya mengajarkan bahwa keramahan kota tidak selalu hadir melalui bangunan megah atau destinasi wisatanya. Cukup dengan warung sederhana dan harga yang tetap bersahabat adalah sambutan yang lebih dari cukup.

 

Istiqomatin Nisa'
Ditulis oleh

Istiqomatin Nisa'

Penulis belum menambahkan biodata singkat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer