Pernikahan bagi sebagian manusia mungkin adalah suatu momen yang sangat ditunggu. Karena selain kesakralannya, menjalani pernikahan berarti memasuki sebuah fase baru dalam kehidupan dan perubahan status dari yang asalnya lajang berganti menjadi premiliki pasangan. Tetapi untuk menjalani pernikahan dibutuhkan berbagai persiapan yang harus memadai sebelumnya, misalnya persiapan ekonomi, mental, dan sebagainya.
Pernikahan bukan hanya berkutat di antara hubungan antara dua insan yang berbeda orientasi seks-nya, tapi lebih daripada itu. Tetapi mirisnya, di zaman yang tidak ada sesuatu yang gratis seperti saat ini. Banyak diantara saudara sesama muslim (atau mungkin agama lain) menjalani pernikahan tanpa adanya persiapan yang matang, dengan berlindung di balik kata tawakal. Yaitu berserah diri kepada Tuhan. Padahal konsep tawakal itu tersendiri tidak sesederhana kata berserah diri pada Tuhan, tetapi ada konsep lain yang dikenal dengan ikhtiar, yaitu usaha seorang hamba sebelum menjalani tawakal.
Saya akan mengutip sebuah ungkapan yang tercantum dalam Kitab washoya al aba lil abna karya Syaikh Muhammad Syafir. disana tertulis bahwasanya konsep tawakal itu bukan berarti diam dan berserah diri pada Tuhan, tetapi harus adanya sebuah usaha terlebih dahulu sebelum berserah diri. Nah, konsep inilah yang sering luput dari pemahaman orang orang terhadap konsep tawakal
Kesalahan Konsep ini seringkali saya temui di beberapa kampung di daerah Sampang, Madura, terutama dalam hal pernikahan. Orang-orang di sana cenderung memiliki pola pikir seperti lebih baik nikah dulu, kalau masalah kerja (rezeki) pasti bakal menyusul. Kan masalah rezeki sudah ada yang ngatur atau semacamnya. Dengan berdalih sedang menerapkan konsep tawakal. Padahal nyatanya tidak, mereka hanya ingin memuaskan nafsu mereka dengan menyalurkannya lewat ritual pernikahan.
Penulis : Moh. Abd. Alim