Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Formula C.I.N.T.A. untuk Dakwah yang Penuh Kasih dan Efektif

Berdasarkan pengalaman di dunia dakwah saya ingin bercerita tentang beberapa hal tips dan trik berdakwah. Sebagai jawaban atas tantangan zaman sebagai pendakwah yang bahkan tidak lagi sesuai dengan teladan Rasulullah SAW. Saya ingin menekankan bahwasanya Allah menerangkan di dalam surah Ali Imran ayat 104 dan juga surah An-Nahl ayat 125 bahwasanya dakwah itu adalah kegiatan yad’una ilalir yamuruna bilufihaunil munkar. Jadi kegiatan mengajak sebenarnya dapat dilakukan dengan cara yang lebih santai, friendly dan tidak terkesan menggurui. 

Berdasarkan pengalaman berkecimpung di dunia dakwah, saya mendapatkan semacam trik rahasia agar dakwah itu dicintai dan diterima. Karena tujuan berdakwah tidak lain untuk mengajak kebaikan. Maka seharusnya kita harus mengusahakan untuk dicintai orang yang kita ajak dan dengannya pula kita mencintai Allah SWT. 

Karena itu, pemahaman bahwa dakwah hanyalah ceramah perlu diluruskan. Dakwah jauh lebih luas daripada sekadar berbicara di mimbar atau memberi nasihat secara verbal. Dakwah bisa hadir dalam tindakan, tulisan, karya kreatif, pelayanan sosial, pendampingan masyarakat, hingga keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam konteks digital, satu unggahan yang menenangkan hati, satu video yang mencerahkan, atau satu tulisan yang mengubah cara pandang seseorang, semuanya dapat menjadi bentuk dakwah yang bernilai besar.

Namun, tantangan terbesar dakwah hari ini adalah bagaimana menyampaikan pesan agama tanpa terasa menggurui. Generasi muda memiliki karakter kritis, terbuka, dan sangat peka terhadap cara komunikasi. Mereka cenderung menolak bukan karena tidak suka terhadap ajaran Islam, tetapi karena cara penyampaian yang dianggap menghakimi, memaksa, atau tidak memahami realitas mereka. Maka dakwah harus tampil ramah, relevan, dan bersahabat. Dakwah harus menjadi ruang dialog, bukan ruang intimidasi.

Untuk itu, saya menawarkan satu rumus sederhana agar dakwah dicintai dan diterima, yaitu CINTA. Kata ini bukan sekadar simbol perasaan, tetapi metodologi dakwah yang sangat kontekstual bagi zaman sekarang.

Huruf pertama, C adalah Contoh. Dalam Al-Qur’an dikenal konsep uswatun hasanah, teladan yang baik. Rasulullah SAW menjadi contoh utama bagaimana dakwah dilakukan melalui perilaku. Sering kali manusia lebih mudah belajar dari apa yang mereka melihat daripada dari apa yang mereka dengar. Kita tidak perlu terlalu banyak berbicara jika perilaku kita sudah menjadi bukti dari nilai yang kita sampaikan. Jika kita mengajak disiplin, maka tunjukkan kedisiplinan. Jika kita mengajak jujur, maka jadilah pribadi yang jujur. Jika kita mengajak menjaga lisan, maka mulailah dari tutur kata kita sendiri. Keteladanan adalah bahasa dakwah yang paling kuat.

Di era digital, prinsip keteladanan semakin penting. Orang dapat dengan mudah mencari informasi agama di internet, tetapi belum tentu mereka menemukan figur yang bisa dipercaya. Konten bisa viral dalam hitungan menit, tetapi keteladanan memerlukan konsistensi. Karena itu, generasi muda yang ingin berdakwah di media sosial harus memahami bahwa publik tidak hanya melihat apa yang diunggah, tetapi juga menilai integritas pembuatnya. Reputasi digital dibangun bukan semata oleh kata-kata, melainkan oleh karakter.

Seteleh huruf C ada huruf I yakni Ikhlas. Segala amal tergantung pada niat. Di tengah budaya digital yang sering mengukur keberhasilan dengan jumlah penonton, likes, komentar, dan pengikut, keikhlasan menjadi ujian yang nyata. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah konten yang dibuat benar-benar untuk mengajak kepada kebaikan, atau hanya untuk popularitas? Apakah dakwah dilakukan untuk memberi manfaat, atau sekadar membangun citra diri? Pertanyaan ini penting karena sesuatu yang lahir dari ambisi sering kehilangan ruh, sedangkan sesuatu yang lahir dari keikhlasan akan memiliki daya sentuh yang berbeda.

Keikhlasan juga membuat seorang pendakwah tidak mudah goyah oleh penilaian manusia. Akan selalu ada orang yang sinis, meragukan, atau menuduh pencitraan. Namun selama niatnya lurus, ia akan tetap melangkah. Tugas manusia adalah berikhtiar menyampaikan kebaikan, sedangkan penilaian akhir adalah milik Allah. Dengan keikhlasan, dakwah tidak bergantung pada tepuk tangan manusia.

Selain itu, N sebagai Nasihat yang baik. Allah memerintahkan dakwah dengan hikmah dan mau’izhah hasanah atau pelajaran yang baik. Artinya, bukan hanya isi pesan yang penting, tetapi juga cara menyampaikannya. Kata-kata yang lembut sering kali lebih kuat daripada suara yang keras. Pendekatan yang empatik lebih menyentuh daripada kritik yang menjatuhkan. Banyak orang menjauh dari agama bukan karena membenci ajarannya, tetapi karena pernah bertemu penyampaian yang kasar.

Di media digital, nasihat yang baik berarti memahami siapa audiens kita. Konten untuk remaja tentu berbeda dengan konten untuk orang tua. Bahasa di TikTok berbeda dengan bahasa di YouTube, Instagram, podcast, atau forum diskusi. Setiap platform memiliki karakter, kelebihan, dan kelemahannya masing-masing. Karena itu, pendakwah digital harus memahami ekosistem media. Pesan yang baik membutuhkan medium yang tepat agar sampai kepada sasaran.

Dalam berdakwah, kita tidak boleh juga merasa paling benar, paling suci, atau paling layak menghakimi orang lain. Sikap seperti itu justru menutup pintu dialog. Dengan kata lain seorang da’i memerlukan T atau Tawadhu’. Seorang dai harus rendah hati, terbuka terhadap kritik, dan terus belajar. Ilmu yang dimiliki bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Justru semakin berilmu, seseorang semestinya semakin santun.

Tawadhu’ juga penting di tengah budaya digital yang sering mendorong orang tampil berlebihan. Ada kecenderungan sebagian orang merasa harus selalu tampak paling tahu, paling benar, dan paling dominan. Padahal dakwah bukan panggung ego. Dakwah adalah pengabdian. Ketika seorang pendakwah rendah hati, orang akan merasa dekat. Ketika ia arogan, orang justru menjauh.

Selain berpegang pada konsep, A atau Aksi menjadi tips efektif lainnya. Ini adalah inti amar ma’ruf nahi munkar di era modern. Dakwah tidak boleh berhenti pada kata-kata. Jika ada bencana, turunlah membantu. Jika ada kemiskinan, hadirkan program pemberdayaan. Jika ada teman sedang depresi, dampingilah dengan empati. Jika ada hoaks, luruskan dengan literasi. Jika ada ujaran kebencian, balas dengan narasi damai. Jika ada kemungkaran di ruang digital, lawan dengan karya yang mencerahkan.

Aksi nyata menunjukkan bahwa Islam hadir sebagai solusi, bukan sekadar slogan. Mahasiswa misalnya, dapat mengadakan penggalangan dana, pendampingan belajar, literasi digital, kampanye kesehatan mental, kelas membaca Al-Qur’an, hingga program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semua itu adalah dakwah ketika diniatkan untuk mengajak kepada kebaikan.

Mahasiswa memiliki posisi strategis dalam gerakan ini. Mereka dekat dengan teknologi, memiliki daya pikir kritis, dan berada di lingkungan akademik yang kaya pengetahuan. Jika potensi ini digerakkan, maka lahirlah generasi dai baru yang cerdas, adaptif, dan solutif. Dakwah digital membutuhkan anak muda yang tidak hanya paham agama, tetapi juga mengerti komunikasi, desain pesan, perilaku audiens, dan perkembangan teknologi termasuk kecerdasan buatan. AI bukan ancaman yang harus ditakuti, melainkan alat yang harus dipahami dan dimanfaatkan secara etis untuk memperluas jangkauan kebaikan.

Seorang da’i bukanlah manusia tidak berubah karena suara yang paling lantang, tetapi karena hatinya disentuh dengan cara yang benar. Dakwah yang berhasil bukan yang paling banyak berdebat, tetapi yang paling mampu menghadirkan keteladanan, keikhlasan, kelembutan, kerendahan hati, dan aksi nyata. Itulah dakwah dengan cinta.

Maka tidak perlu menunggu menunggu sempurna atau menunggu dikenal. Lakukan kebaikan sekarang, di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Sebab usia tidak pernah memberi tahu kapan ia berakhir. Kebaikan yang ditunda bisa menjadi kesempatan yang hilang.

Semoga kita semua menjadi bagian dari orang-orang yang menghidupkan amar ma’ruf nahi munkar di era digital, menebar manfaat melalui teknologi, dan menghadirkan wajah Islam yang damai, ramah, serta penuh kasih sayang bagi semesta.

Oleh : Dr. Luthfi Ulfa Ni’amah,M.Kom.I – Koordinator Porgram Studi KPI UIN SATU Tulungagung

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer